
SEMARANG, derapguru.com — Yessy Gusman adalah nama legendaris dalam dunia layar lebar. Pemeran pasangan Galih-Ratna bersama Rano Karno dalam film “Gita Cinta dari SMA” ini membuat edan anak muda pada masanya.
Bahkan, film “Radit & Jani”–film setipe yang meledak pada akhir 2000an–belum mampu menggantikan popularitas Galih-Ratna. Galih dan Ratna cintanya terus abadi seperti lirik lagu “Galih dan Ratna” yang dipopulerkan Chrisye dan di-arransmen ulang oleh D’Cinnamons.
Tapi kali ini Yessy Gusman bukan hadir sebagai artis senior, melainkan hadir sebagai praktisi yang fokus pada perkembangan anak usia dini. Kehadirannya di UPGRIS Kampus Cipto, Sabtu 20 April 2026, dalam kapasitasnya sebagai praktis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sekaligus Ketua I Ikatan Doktor Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia (IKAD PAUDI).
Yessy yang saat ini juga menjadi dosen di London School of Public Relations (LSPR) Jakarta ini, membahas tentang “Pentingnya Menggali Kecerdasan Jamak Anak melalui Performing Art”. Yessy menegaskan, para pengajar anak usia dini harus mengembangkan kecerdasan jamak (multiple intelligences) anak sesuai dengan minat dan bakat.
Lebih lanjut Yessy menyinggung delapan ragam Kecerdasan Jamak yang dimiliki anak. Pertama, Inteligensi Linguistik, yaitu kemampuan untuk membaca, menulis dan berkomunikasi. Menggunakan bahasa untuk menuangkan/ mengekspresikan isi pikiran dan perasaan dalam bentuk kata-kata dan untuk memaknai makna yang kompleks.
“Kedua, Inteligensi Logis – Matematis, yaitu kemampuan untuk berfikir logis, sistematis, mengukur dan menghitung serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Ketiga, Inteligensi Visual – Spatial, yaitu kemampuan untuk berfikir melalui gambar, memvisualisasi hasil masa depan, mengimaginasikan sesuatu dengan penglihatan,” urai Yessy.
Keempat, lanjut Yessy, Inteligensi Musikal, yaitu kemampuan untuk mengomposisikan musik, memiliki sensitivitas pada pola, melodi, ritme dan nada. Seseorang yang mempunyai kecerdasan musikal dapat memanipulasi intonasi suara, irama, dan warna nada untuk berpartisipasi dengan banyak keahlian di dalam aktifitas bermusik.
“Kelima, Inteligensi Kinestetis, yaitu kemampuan untuk menggunakan badan secara terampil mengatasi masalah, menghasilkan prestasi. Termasuk juga kemampuan untuk menyatukan tubuh dan pikiran untuk menyempurnakan pementasan fisik. Kemajuan pada kecerdasan ini digunakan oleh tubuh dalam melakukan kecakapan, perasaan yang tajam terhadap waktu dan mengubah tujuan menjadi aksi perbuatan,” tandasnya.
Lebih lanjut Yessy mengatakan, keenam, Inteligensi Interpersonal Sosial, yaitu kemampuan untuk bekerja secara efektif dengan orang lain, memiliki empathi dan pengertian, menghayati motivasi dan tujuan baik seseorang, mempengaruhi pendapat dan perbuatan orang lain, memahami dan berkomunikasi secara efektif, baik secara verbal maupun non verbal, seperti guru, politikus, dan pemimpin agama.
“Ketujuh, Inteligensi Intrapersonal, yaitu kemampuan untuk analisis diri dan refleksi serta kemampuan untuk menilai keberhasilan orang lain, memahami diri seperti ahli filsafat, konselor. Dan kedelapan, Inteligensi Natural, yaitu kemampuan mengenal kembali flora dan fauna dan mencintai alam, seperti dalam ilmu biologi,” tandas Yessy. (za)




