
SEMARANG, derapguru.com — Setiap orang–baik guru maupun siswa–memiliki pengetahuan dan kemampuan dasar dalam menggambar. Asal gambar yang dihasilkan sudah sesuai dengan bentuk benda yang dijadikan objek gambar, itu sudah praktik pelajaran menggambar.
Resep itu disampaikan Dosen Seni Rupa UPGRIS, Singgih Adi Prasetya MPd, saat menyakinkan para guru SD untuk bisa mengajar menggambar dalam acara “Pembelajaran Seni Itu Asik” yang diselenggarakan Biro Kesenian dan Olahraga PGRI Jawa Tengah di Menara UPGRIS Kampus Gajah Semarang, baru-baru ini.
“Misalnya menggambar panci. Asal gambarnya sudah mirip panci, ya sudah betul. Yang penting bentuk dasar panci sudah bisa terlihat. Semua guru saya pikir sudah punya kemampuan dasar seperti ini,” ungkap Singgih.
Singgih menambahkan, yang menjadi masalah dalam pembelajaran menggambar justru rasa percaya diri guru. Banyak guru tidak pede karena tidak punya pengalaman menggambar yang memadai atau cemas bila gambarnya kalah bagus dari beberapa murid yang berbakat.
“Kadang memang ada murid-murid yang punya bakat dalam menggambar. Ini juga memberi tekanan pada psikis pada guru. Guru jadi minder, malu kalau gambarnya tidak lebih bagus dari sang murid,” urai Singgih.
Kondisi ini, lanjut Singgih, mengindikasikan bahwa dalam pelajaran menggambar bukan perkara kemampuan guru yang menjadi penghambat. Tapi rasa percaya diri guru yang memang tidak ada.
“Jadi, yang perlu dibenahi adalah rasa percaya diri guru. Guru harus diyakinkan bahwa dirinya bisa mengajar materi menggambar,” urai Singgih.
Dalam kesempatan tersebut Singgih juga menuturkan, bahwa rasa percaya diri memang tidak bisa tumbuh dengan tiba-tiba. Yang paling penting adalah terus membiasakan untuk mengajar menggambar dari yang sederhana menjadi gambar yang lebih kompleks. (za)




