
SEMARANG, derapguru.com — Mata pelajaran yang terkait dengan pendidikan seni sering dijalanan apa adanya. Bahkan pengajarannya pun sering dilakukan oleh guru yang tidak pada bidang ilmunya.
Kondisi tersebut disampaikan Ketua PGRI Jawa Tengah yang juga Wakil Ketua Komite IPD RI, Dr H Muhdi SH MHum, dalam acara “ToT Mengajar Seni Asik” yang digelar di Seminar Room 6fl UPGRIS Menara Kampus Gajah Semarang, Sabtu 11 April 202

“Pada pendidikan menengah, pengajar bidang seni seringkali tidak berasal dari bidang seni. Terkadang malah guru bidang lain yang kekurangan jam, lantas diberikan jam mengajar seni,” ungkap Muhdi.
Kondisi yang sama juga terjadi pada jenjang sekolah dasar. Karena gurunya adalah guru kelas. Maka gurunya jarang yang memiliki kemampuan spesifik pada bidang seni sehingga pengajaran seni yang dilakukan kurang maksimal.
“Bahkan, karena gurunya mengajar semua mata pelajaran, banyak guru yang lebih mementingkan pengajaran mata pelajaran inti seperti Batematika, Bahasa Indonesia, IPA, atau IPS. Padahal bidang seni ini berpengaruh besar pada pembentukan karakter, kreativitas, dan kepribadian peserta didik,” ungkap Muhdi.

Ketua Biro Kesenian dan Olah Raga PGRI Jawa Tengah, Dr Dyah Nugrahani MPd, menyampaikan bahwa pendidikan seni, berbagai bentuk kreativitas, imajinasi, dan kemampuan berekspresi akan terbentuk.
“Pendidikan seni memiliki peranan penting dalam mengembangkan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan berekspresi siswa,” tandas Dyah.
Dyah Nugrahani menambahkan melalui proses kreatif mencari, bermusik, melukis atau menggambar, siswa tidak hanya mengasah kepekaan estetis tapi juga membangun kepribadian yang tangguh, jujur, percaya diri, dan menghargai keberagaman.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Sekretaris II Dr Saptono Nugrohadi MPd dan Wakil Sekretaris III PGRI Jateng Sukaton Purtomo Priyatmo SH MM. (za)




