
Semarang, Derapguru.com-Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk murid kelas XII SMA/SMK, Kini memasuki tahun kedua, dan saat ini adalah masa Gladi Bersih dengan jadwal Gelombang 1, tanggal 5 – 11 Oktober 2026 dan Gelombang 2 tanggal 12 – 18 Oktober 2026, sebelum kemudian akan masuk pada Pelaksanaan Ujian Utama Gelombang I tanggal 26 Oktober – 1 November 2026, Gelombang II tanggal 2 – 8 November 2026, dan Gelombang Khusus, tanggal 31 Oktober – 1 November 2026 dan 7 – 8 November 2026.
Jika kita menengok ke TKA tahun 2025, kita akan melihat kesenjangan mencolok antara nilai rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan nilai rapor para siswa. Nilai raport anak-anak pada umumnya antara 80 – 100, atau mendekati nilai sempurna, sedangkan nilai TKA umumnya sangat rendah. Sebagai contoh Nilai Rata-Rata Nasional Bahasa Indonesia 55,38, Matematika: 36,10, dan Bahasa Inggris 24,93.
Dr Saptono Nugrohadi, MPd Msi, Guru SMAN 3 Kota Salatiga, menyatakan, kesenjangan mencolok antara nilai rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan nilai rapor umumnya bersumber dari perbedaan fungsi evaluasi, tingkat kesulitan soal, serta fenomena inflasi nilai di sekolah.

Dijelaskan, faktor-faktor utama penyebab disparitas ini meliputi: Pertama, Tingkat Kognitif Soal (HOTS vs. LOTS/MOTS): Soal TKA dirancang berstandar nasional/seleksi dengan model analisis penalaran tingkat tinggi (HOTS), penggabungan konsep lintas bab, dan distraktor opsi yang mengecoh. Sebaliknya, ujian harian atau penilaian di rapor cenderung menguji penguasaan materi per topik yang masih dominan ingatan dan pemahaman prosedural (LOTS/MOTS); Kedua, Fungsi Ujian (Standar Mutlak vs. Evaluasi Holistik): TKA berfungsi sebagai instrumen seleksi dan komparasi objektif dengan batas waktu ketat tanpa ruang toleransi. Sementara nilai rapor mencerminkan evaluasi formatif-sumatif yang juga memperhitungkan kehadiran, tugas mandiri/kelompok, sikap, portofolio, dan keaktifan harian siswa;
Ketiga, Toleransi Remedial dan Inflasi Nilai: Di sekolah, siswa memiliki kesempatan perbaikan (remedial) hingga melampaui Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP/KKM). Kebijakan menjaga citra kelulusan dan peluang siswa dalam jalur seleksi berbasis prestasi (SNBP) kerap memicu penyesuaian nilai rapor ke atas (grade inflation); dan Keempat, Familiaritas Format TKA dan Tekanan Psikologis: Banyak siswa belum terbiasa menghadapi paket soal panjang berbasis stimulus kasus (teks analitis, grafik numerik) di bawah tekanan durasi ujian komputer yang ketat, berbeda dengan suasana ujian kelas yang lebih familiar.
Menurut mantan Kepala Sekolah Berprestasi Nasional ini, Disparitas nilai rapor dan TKA tidak harus menjadi nol, karena keduanya memiliki tujuan, cakupan, dan karakter penilaian yang berbeda. Nilai rapor mencerminkan capaian belajar dalam proses yang lebih panjang, sedangkan TKA mengukur kompetensi tertentu melalui asesmen terstandar. Karena itu, kesenjangan angka tidak otomatis membuktikan adanya inflasi nilai. Yang perlu diperiksa adalah apakah kedua hasil tersebut memberikan gambaran yang konsisten tentang kemampuan siswa.
Dr Saptono yang juga Wakil Sekretaris Umum PGRI Jawa Tengah ini menyatakan, Keberhasilan guru bukan hanya ketika siswa memperoleh nilai rapor tinggi, tetapi ketika nilai tersebut benar-benar mencerminkan kemampuan yang dapat ditunjukkan siswa secara mandiri, termasuk ketika menghadapi asesmen seperti TKA.
Tujuh Langkah Untuk Guru
Dr Saptono kemudian mengungkapkan ada tujuh langkah yang perlu dilakukan guru, untuk mengoptimalkan kemampuan murid; Pertama, Mengubah orientasi pembelajaran dari mengejar nilai menjadi membangun kompetensi. Siswa tidak cukup hanya menghafal rumus, memahami contoh soal, atau menyelesaikan tugas. Mereka harus mampu menggunakan pengetahuan untuk menganalisis masalah, menafsirkan informasi, dan menentukan solusi; Kedua, Menyelaraskan penilaian harian dengan tuntutan kompetensi TKA. Guru perlu membiasakan soal yang menguji pemahaman konsep, penalaran, penerapan, dan pemecahan masalah. Bukan berarti seluruh soal harus sulit, tetapi tingkat kemampuan yang dinilai perlu lebih beragam dan mencerminkan capaian belajar sesungguhnya;
Ketiga, Menganalisis hasil Try Out secara individual. Nilai Try Out jangan berhenti sebagai angka. Guru perlu mengidentifikasi kompetensi yang belum dikuasai setiap siswa, jenis kesalahan yang sering muncul, dan materi yang membutuhkan penguatan. Hasil analisis tersebut menjadi dasar pembelajaran berikutnya; Keempat, Mengubah Pemantapan TKA menjadi pembelajaran diagnostik. Program Pemantapan TKA sebaiknya tidak sekadar memperbanyak latihan soal. Guru perlu mengajak siswa memahami mengapa suatu jawaban benar, mengapa pilihan lain keliru, dan bagaimana strategi menyelesaikan soal secara efektif; Kelima, Membangun kebiasaan bernalar dalam pembelajaran sehari-hari. Kemampuan menghadapi TKA tidak dapat dibentuk hanya melalui latihan menjelang ujian. Dalam pembelajaran reguler, guru perlu membiasakan siswa membaca informasi secara kritis, menjelaskan alasan, menghubungkan konsep, dan mempertanggungjawabkan jawabannya;
Keenam, Menjaga objektivitas dan kredibilitas nilai rapor. Nilai rapor harus menggambarkan capaian kompetensi siswa secara jujur berdasarkan kriteria penilaian yang jelas. Remedial tetap penting sebagai kesempatan memperbaiki penguasaan materi, bukan sekadar menaikkan angka. Nilai yang tinggi seharusnya didukung kemampuan akademik yang kuat; dan Ketujuh, Melakukan evaluasi bersama antarguru mata pelajaran. Sekolah perlu membandingkan hasil penilaian internal dengan hasil Try Out dan TKA secara berkala, memperhatikan perbedaan cakupan serta skala penilaiannya. Tujuannya bukan mencari guru yang salah, tetapi menemukan bagian pembelajaran dan asesmen yang perlu diperbaiki bersama.
Anak-anak diberi Materi Pengayaan
Pendapat lain disampaikan Kepala SMA PGRI 1 Pati, Sutono yang menyatakan, perbedaan nilai TKA dan nilai Raport terjadi karena nilai raport di buat tiap semester, materi lebih sedikit sehingga anak lebih mudah memahami sedangkan TKA, selain materi lebih komplek juga jenis soal cenderung ke penerapan. Upaya yang dilakukan Sutono menghadapi TKA di sekolahnya dilakukan melalui berbagai cara, sebagai solusi agar nilai TKA terus meningkat. Solusi yang dilakukannya, diantaranya adalah mengulang materi-materi dari kelas X, memperbanyak latihan soal, dan meningkatkan motivasi anak. Tahun 2026 ini anak yang mengikuti TKA ada 421 siswa.

Pendapat lain diungkapkan Kepala SMK PGRI 1 Taman, Pemalang, Yanto Raharjo. Menurut Yanto Raharjo, perbedaan nilai TKA dan nilai Raport siswa di sekolahnya terjadi karena beberapa hal; Pertama, TKA tahun 2025 adalah yang pertama, sehingga persiapannya kurang; Kedua, anak-anak kelas XII sedang mengikuti kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di dunia Industri atau perusahaan, sehingga tidak bisa fokus menghadapi TKA; Ketiga, anak-anak SMK umumnya setelah lulus memilih bekerja atau berwira usaha, bukan melanjutkan kuliah.

Untuk menghadapi TKA tahun 2026, yang akan diikuti oleh 595 peserta, pihaknya kini telah melakukan pengayaan materi kepada anak-anak. “Anak-anak yang pada bulan Agustus – November sedang melakukan kegiatan PKL, kami mintakan ijin sesuai jadwal kami untuk mengikuti kegiatan pengayaan materi di sekolah”, ujar Yanto Raharjo. (pur)




