
Banjarnegara, derapguru.com-Libur sekolah telah tiba. Salah satu destinasi wisata nasional yang akan diserbu pengunjung saat liburan tentu saja Dieng Banjarnegara. Objek wisata yang telah masyur di Dieng diantaranya komplek candi Arjuna, kawah Sikidang, telaga Warna dan juga bukit Skoter. Namun ada objek lain yang jarang orang mengetahuinya. Objek tersebut lain daripada yang lain, karena merupakan peternakan. Namanya Dombat Kencana Farm. Ya, peternakan domba Batur, yang tidak ada di lain tempat di penjuru nusantara, bahkan dunia. Peternakan ini milik warga Batur, Banjarnegara bernama Sayyid Rozan. Menariknya, peternakan ini berada di pusat kota Kecamatan Batur. Tepatnya di Dusun Krajan, sekitar 8 kilometer dari Dieng. Kalau beberapa waktu lalu saat Idul Adha, di jagat dunia maya viral dengan melimpahnya daging kurban, nah di situlah peternakan itu berada. Bahkan saat itu, Sayyid Rozan juga turut berkurban dengan domba Batur bernama Bagong yang sudah berumur 10 tahun, dengan berat lebih dari 100 kilo gram!
Letak peternakan itu hanya 25 meter ke arah utara dari perempatan pasar Batur. Di sana, Rozan beternak lebih dari 100 ekor domba Batur dengan aneka usia. Menurut Rozan, peternakan ini lebih fokus pada pengembangbiakan.
Masuk ke dalam area peternakan, kita akan disambut oleh poster besar bergambar mertua Presiden RI Prabowo Subianto, HM Soeharto, khas dengan pose senyum sembari menghisap cerutunya. Di bawah gambar Soeharto, terdapat narasi yang menceritakan sejarah domba Batur.
Menurut sejarah tersebut, kisah bermula ketika pada tahun 1984, Soeharto memberikan bantuan presiden berupa 10 ekor domba Marino dari Tapos, Bogor. Oleh masyarakat Batur, domba tersebut dikawin silangkan dengan domba lokal ekor tipis. Perkawinan tersebut menghasilkan varietas domba Batur seperti saat ini dengan ciri tubuh besar, bulu tebal menyelimuti seluruh bagian tubuh dan tentunya adaptif dengan cuaca dingin pegunungan.
“Kalau dibandingkan dengan varietas asli Marino, domba Batur berbeda karena bulunya memenuhi hingga kepala. Itu yang membuat domba Batur terkesan lebih lucu,” jelas Rozan.
Pada tahun 2011, domba Batur telah dipatenkan secara resmi sebagai rumpun domba lokal Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 2916/Kpts/OT 140/6/2011.
“Awalnya Bapak saya yang beternak sejak tahun 80-an, lalu saya melanjutkan usaha Bapak ini sejak 2022. Kebanyakan yang datang ke sini para peneliti dan juga mahasiswa yang magang,” ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.

Rozan menambahkan, perawatan yang baik akan menentukan hasil domba Batur. Bahkan domba Batur pun dapat dipelihara di tempat dengan cuaca yang lebih hangat atau panas, asalkan pakan dan kandangnya sesuai.
“Kami di sini ada 3 pegawai yang mengurusi. Mulai dari mencari rumput, mencacah rumput, mencampur cacahan rumput bahkan sampai memantau proses kelahiran domba Batur yang hamil,” tambah Rozan.
Untuk harga domba Batur ini, dapat dikategorikan bukan barang murahan dan cenderung pada peliharaan bernilai seni karena bentuknya yang lucu. Untuk anakan domba usia satu bulanan saja, kisaran harganya sudah mencapai 3 juta rupiah.
“Selain badannya besar, usianya bisa mencapai 20 tahunan, juga dagingnya lebih enak dari domba biasa. Juga menariknya, domba Batur relatif tidak berbau sehingga dipeluk pun tidak masalah,” kata Rozan.
Menurut Rozan, hal yang belum optimal saat ini adalah pemanfaatan bulu domba Batur. Padahal jika bulu domba Batur dicukur, selain menghasilkan bulu dengan kualitas baik juga akan menjadikan pertumbuhan domba lebih baik. Ia berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat membantunya mengoptimalkan bulu domba Batur agar memiliki nilai jual yang tinggi.
Saat liburan seperti saat ini, peternakan Rozan kebanyakan didatangi anak-anak yang libur sekolah, atau anak-anak luar kota yang kebetulan sedang liburan ke Batur. Tempat ini bisa menjadi alternatif kunjungan wisata edukasi untuk keluarga saat Anda berkunjung ke Dieng. Kalau ke Dieng tak mampir melihat domba Batur, Bisa-bisa Anda tidak bisa nyenyak tidur. (Heni P)




