
SEMARANG, derapguru.com — Kompetensi berbahasa sangat penting untuk dikuasai guru maupun siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Pasalnya, masalah bahasa–terlebih lagi bahasa Indonesia–keberadaannya di sekolah adalah sebagai bahasa pengantar pendidikan.
Hal tersebut disampaikan Dosen UPGRIS, Rawinda Fitrotul Mualafina SS MA, saat memberikan materi kebahasaan dalam pelatihan “Penguatan Kompetensi Bahasa Indonesia Akademik bagi Guru dan Siswa SMP PGRI 5 Plus Semarang Lab School UPGRIS”, baru-baru ini.
“Kompetensi berbahasa ini sangat penting karena bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar penyebaran ilmu pengetahuan di sekolah,” urai Rawinda yang dalam pelatihan ini tergabung dengan tim dosen yang terdiri atas Dr Mukhlis MPd, Dr Sunarya MHum, dan Raden Yusuf Sidiq Budiawan SPd MA.
Rawinda menambahkan, beberapa hal kebahasaan yang biasanya menjadi problem bagi guru dan siswa adalah membedakan antara “bahasa baku” dan “bahasa formal”. Seringkali keduanya dianggap sama–atau memiliki kesepadanan–, padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda
“Bahasa baku itu ditentukan dari ada tidaknya kata-kata tersebut di dalam kamus. Sedangkan bahasa formal ditentukan oleh situasi tutur. Dua hal yang berbeda dari cara pengklasifikasiannya,” urai Rawinda.
Hal lain yang sering juga mengalami kesalahan, lanjut Rawinda, adalah masalah penulisan prefiks (imbuhan di depan) [di-] dan preposisi (kata depan) /di/. Sebagai prefiks, [di-] ditulis serangkai dengan kata yang diikutinya. Sebagai preposisi, penulisannya dipisah dari unsur yang diikuti.
“Contoh [di-] sebagai prefiks antara lain: diambil, dimakan, ditempatkan, dikandangkan, dan ditempati. Sedangkan contoh /di/ sebagai preposisi antara lain: di rumah, di sana, di antara, di mana, di atas, di hatimu, di gelas, di kelas, di kandang, atau di tempat,” ungkap Rawinda.
Selain memberikan bekal kebahasaan, para guru juga dibekali dengan Etika Komunikasi Akademik dan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar. Etika komunikasi akademik membahas tentang bagaimana nilai dan norma dalam berkomunikasi di ruang akademik.
“Sedangkan materi tentang Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar kami tambahkan pula materi tentang bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang tepat dan sesuai dengan situasinya,” pungkas Rawinda. (za)




