
SEMARANG, derapguru.com — Penyandang disabilitas rerata memiliki sensitivitas emosional yang unik. Hal ini disebabkan oleh hambatan kognitif, frustrasi atas keterbatasan fisik, stres lingkungan, atau gangguan fungsi psikologis sehingga mereka sering berlaku emosional.
Membantu mengatasi masalah emosional penyandang disabilitas–terutama penyandang tunarungu–, dua mahasiswa UPGRIS atas nama Titis Arum dan Amalia Catur merancang media terapi seni dengan memanfaatkan barang-barang bekas.
“Kami memanfaatkan barang-barang bekas seperti botol plastik, kardus, kertas bekas, dan tutup botol untuk disusun menjadi karya seni menarik,” tutur Titis diamini oleh Amalia.
Dua mahasiswa yang sedang menjalankan program Magang di SLB N Semarang tersebut menuturkan bahwa secara teknis terapi emosional ini dilakukan dengan mengajak penyandang tunarungu mengekpresikan perasaan dan emosi melalui seni. Mereka mengajak mereka membuat karya seni dengan barang-barang bekas.
“Awalnya kami memberikan penjelasan mengenai manfaat penggunaan barang bekas sebagai media berkarya. Setelah itu, siswa mulai membuat karya sesuai dengan kreativitas masing-masing dengan pendampingan dari mahasiswa,” tutur Titis.
Titis menambahkan, di bawah arahan Dosen Pembimbing Magang Dr Dini Rahmawati MPd dan Guru Pamong Aris Wibowo SPd, kegiatan membuat karya seni dengan barang bekas ini juga bisa digunakan untuk meningkatkan kreativitas.
Di luar itu kegiatan ini juga membantu melatih motorik halus, konsentrasi, serta rasa percaya diri siswa dalam menampilkan hasil karya mereka.
“Semoga pemanfaatan barang bekas sebagai media art therapy ini bisa menjadi alternatif pembelajaran yang menyenangkan dan bermanfaat bagi siswa tunarungu,” tandas Titis. (za)




