
SEMARANG, derapguru.com — Perkembangan teknologi menuntut para guru untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta mampu menggunakannya sebagai piranti dalam pembelajaran. Hal ini perlu dilakukan agar cara mengajar guru selalu relate dengan perkembangan teknologi dan laju peradaban.
Untuk mendorong penggunaan teknologi-teknologi tinggi bagi para guru, tim dosen UPGRIS yang terdiri atas Farida Nursyahidah MPd, Arif Wibisono PhD, dan Maya Rini Rubowo MSi menggelar pelatihan bertajuk “Pelatihan Media Augmented Reality Berbasis Techno-Ethno-Realistic Mathematics Education (TE-RME)”.
Pelatihan yang digelar di SMPN 5 Semarang ini diikuti 20 orang guru dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMP Kota Semarang, Selasa, 9 Juni 2026.
Ketua Tim Dosen, Farida Nursyahidah, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan dan mengimplementasikan media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) yang terintegrasi dengan pendekatan Techno-Ethno-Realistic Mathematics Education.
Pendekatan tersebut mengombinasikan pemanfaatan teknologi digital, kearifan lokal (ethnomathematics), serta konteks kehidupan nyata siswa dalam pembelajaran matematika. Acara tersebut sekaligus sebagai sarana sosialisasi buku panduan mendesain pembelajaran inovatif menggunakan pendekatan Techno-Ethno-Realistic Mathematics Education kepada para guru matematika SMP di Kota Semarang.
“Pembelajaran matematika sering kali dianggap sulit karena banyak konsep yang abstrak. Dengan Augmented Reality, siswa dapat melihat dan berinteraksi langsung dengan representasi objek matematika dalam bentuk tiga dimensi. Ketika teknologi tersebut dipadukan dengan budaya lokal dan konteks kehidupan sehari-hari, dapat membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam dan bermakna melalui pendekatan Techno-Ethno Realistic Mathematics,” ujar Farida Nursyahidah.
Farida Nursyahidah yang juga pengembang pendekatan pembelajaran inovatif TE-RME ini mengatakan bahwa dalam pelatihan ini, peserta memperoleh materi mengenai konsep dasar mendesain pembelajaran Techno-Ethno-Realistic Mathematics Education, pengenalan perangkat lunak pengembangan media AR, praktik pembuatan media pembelajaran AR, serta simulasi implementasi media AR dalam proses pembelajaran TE-RME di kelas.
“Selain itu, peserta juga diajak mengintegrasikan unsur budaya lokal Semarang ke dalam aktivitas pembelajaran matematika sehingga dapat memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan kemampuan problem solving siswa,” tandasnya.
Ketua MGMP Matematika SMP Kota Semarang, Ida Zubaidah SPd, menyambut baik kegiatan tersebut dan mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara perguruan tinggi dan komunitas guru. Menurutnya, pelatihan ini memberikan wawasan baru bagi guru dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih inovatif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan teknologi.
“Guru perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pelatihan ini memberikan bekal yang sangat bermanfaat untuk menciptakan pembelajaran yang tidak hanya memanfaatkan teknologi, tetapi juga mengangkat budaya lokal sebagai sumber belajar yang kaya melalui pembelajaran Techno-Ethno-Realistic Mathematics Education,” ungkap Ida Zubaidah. (za)


