Home > D’Budaya > Dari Bandung Bandawasa sampai ‘Dumadining Candi Prambanan’

Dari Bandung Bandawasa sampai ‘Dumadining Candi Prambanan’

sangkatama 1 (1)

PANGGUNG gelap. Suara gamelan terdengar bersahutan. Perlahan sorotan lampu  bersinar di tengah panggung. Tampaklah sosok laki-laki sedang bersemadi di atas batu. Dialah Bandung Bandawasa. Lelaki rupawan dari tanah Pengging yang sedang mencari petunjuk Dewa untuk menaklukkan ketangguhan Kerajaan Baka.

Perang besar terjadi. Kerajaan Baka jatuh. Bandung Bandawasa jadi pemenang. Tapi lelaki pemenang itu jatuh cinta pada puteri Kerajaan Baka, Roro Jonggrang. Bandung meminang, tapi sang Puteri meminta syarat. Seribu candi harus diciptakan dalam satu malam.

Baca Juga: Pertunjukan Banyak Ricuh dan Dihentikan, Pengamat: Petugas Harus Tegas, EO Jangan Hanya Buru Untung

Kisah klasik terciptanya Candi Prambanan dan Candi Sewu tersebut terlihat dalam pertunjukan “Dumadining Candi Prambanan” yang dipentaskan oleh UKM Sangkatama UPGRIS, Senin malam tadi, 8 November 2022. Pentas yang dipersembahkan dalam tema besar “Mahakarya 4” merupakan agenda rutin tahunan yang digelar keempat kalinya dengan pentas yang berbeda-beda.

Pentas “Dumadining Candi Prambanan” ini sendiri, digarap Sutradara Nisa Ul Mufidha. Iringan pentas digarap oleh Raden Tumenggung Suradji Projo Dipuro. Sedangkan para pemain pementasan dipentaskan ramai-ramai oleh Prasena Arisyanto (Pembina UKM Sangkatama), Anggara MA, Alya Nabila F, Slamet Riyanto, Zullafa Ery P, Popy Nurul A, Bella Fania KD, Anggalih P, Alfina Aryani, Ismi Dwi S, Mirna Sandra S, Septina Ayu R, Linggar WU, Amalia Saputri S, Annisa L, Rahmadabi, Metta Septya Kurnuasih, Denia Dwi D,  Degi Rindia Y, Astri Kusuma W, Trisno Varida, Danu Handrian F, dan M Ijal Faza.

Baca Juga: ‘Tekan Semene’ Aftershine Bikin Larut di BK Fest

Pembina UKM Sangkatama, Prasena Arisyanto, menuturkan bahwa pementasan yang digelar ini merupakan salah satu cara untuk memberikan pengalaman pentas pada anggota. Kegiatan ini juga digunakan untuk memberikan pengalaman kerja kolektif untuk membangun harmoni dan chemistry dalam berkesenian.

“Harmoni dan chemistry ini sesuatu yang sangat penting dalam dunia seni. Semakin sering pentas bersama akan semakin terbentuk harmonisasi dan chemistry-nya,” tandas Prasena.

Wakil Rektor III UPGRIS yang diwakili staf ahli, Buyung Kusumawardhana SPd MKes, menyampaikan apresiasi luar biasa atas terlaksanakannya kegiatan ini. Buyung juga menyampaikan salam dari Wakil Rektor III Dr Sapto karena hari ini kebetulan pada hari yang bersamaan beliau yang juga Ketua LKBH PGRI Jateng sedang ada agenda Sosialisai Hukum Bagi Buru dan Kepala Sekolah. (Royan Ibagaza/Arjun Naja/za)

You may also like
Dosen UPGRIS Beri Pelatihan Penggunaan AI di LP Ma’arif NU Jepara
Rektor UPGRIS Berdayakan Guru di Batang Jadi Fasilitator Sekolah Ramah Anak
Wisuda UPGRIS, 45 Wisudawan Lulus Tanpa Skripsi
Generasi Saat Ini Akan Hadapi Masalah Yang Belum Ditemukan

Leave a Reply