Home > D’Opini > Analisis Wacana Kritis sebagai Solusi Memantik Kecakapan Literasi Multigenerasi NKRI Abad XXI

Analisis Wacana Kritis sebagai Solusi Memantik Kecakapan Literasi Multigenerasi NKRI Abad XXI

Oleh

Eva Ardiana Indrariani dan Muhammad Rohmadi

Dalam konteks perkembangan abad XXI dewasa ini, kita memasuki era kelimpahan informasi. Jumlah informasi yang tersebar luas dapat berdampak positif atau sebaliknya Jumlah informasi saat ini meningkat signifikan. Big data menjadi hal fundamental dan sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

 

FAKTA peristiwa yang disajikan big data oleh wacana bahasa, baik teks maupun lisan, tidak selalu bebas nilai. Seseorang menggunakan bahasa untuk menyampaikan ideologi tertentu melalui pilihan kata atau struktur tata bahasanya. Multigenerasi NKRI dihadapkan pada berlimpahnya informasi dalam belantara abad XXI.

Tolok ukur kemajuan sebuah negara adalah kecakapan literasi generasinya. Indonesia telah melakukan survei kemampuan literasi siswa dalam tiga hal yakni kemampuan memahami teks, numerasi, dan literasi sains.

Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa telah melakukan studi pada Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) Indonesia untuk literasi. Hasil studi sejak 2010 sampai akhir 2019 dan pada masa pandemi covid-19, 2020—2021, menyebutkan bahwa kebiasaan untuk mengakses teks informasi di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah di Indonesia masih rendah. Oleh sebab itu, strategi penguatan literasi dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) adalah kunci meningkatkan kecakapan literasi multigenerasi NKRI.

Wacana teks maupun lisan dalam dalam abad XXI perlu disikapi secara kritis. Salah satu pendekatan kontemporer untuk kajian wacana adalah analisis wacana kritis (AWK). AWK melihat wacana sebagai praktik sosial karena dianggap sebagai representasi ideologi yang melibatkan kekuasaan. Sebagai tindakan yang memiliki kekuatan untuk memengaruhi tatanan masyarakat dan sebagai alat komunikasi, wacana baik lisan maupun tulisan, dapat menggambarkan kekuasaan.

Dalam wacana kritis, analisis masalah sosial didasarkan pada linguistik dan semiotis. AWK berfokus pada karakteristik linguistik dari struktur dan proses sosial dan kultural, bukan pada bahasa atau penggunaan bahasa itu sendiri.

Dengan demikian, dapat disampaikan bahwa masyarakat dan kebudayaan membentuk wacana, dan wacana membentuk masyarakat dan kebudayaan secara dialektis. Semua contoh penggunaan bahasa dalam era teknologi informasi berkontribusi dalam memproduksi atau membentuk masyarakat dan kebudayaan, termasuk kecakapan literasi. (za)

You may also like
Dr Muhdi: Apresiasi Untuk Seluruh Pimpinan UPGRIS
Rektor UPGRIS: Momen Istimewa Bersama Keluarga Besar UPGRIS
Gayeng Sekali, Ditembak Nyanyi Pak Bani Minta Remidi
Dr Muhdi: 3-4 Agustus Digelar Konverensi Provinsi

Leave a Reply