
Banjarnegara, derapguru.com-Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMA/SMK kali kedua setelah era penghapusan Ujian Nasional kembali akan digelar. Di Jawa Tengah, sampai hari ini paling tidak ada 1.692 SMA/SMK dengan 223.977 murid yang akan berpartisipasi. Tujuan TKA sendiri berdasar laman tka.kemendikdasmen.go.id adalah untuk memperoleh informasi capaian akademik murid yang terstandar untuk keperluan seleksi akademik, menjamin pemenuhan akses murid Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal terhadap penyetaraan hasil belajar, mendorong peningkatan kapasitas pendidik dalam mengembangkan penilaian yang berkualitas dan memberikan informasi kepada murid tentang kekuatan dan kelemahan dalam bidang akademik.
Untuk jenjang SMA/SMK sendiri hasil TKA bagi murid yang akan melanjutkan kuliah juga posisinya sangat penting karena dijadikan pembanding bagi kampus dalam melakukan Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) yang proses seleksinya salah satunya berdasarkan nilai raport. Sehingga kalaupun nilai raportnya bagus namun nilai TKA nya kurang, maka akan mempengaruhi peluang diterima di kampus negeri.
Mempersiapkan itu semua, Kamis 24 September 2026 SMAN 1 Sigaluh menggelar simulasi TKA. Pelaksanaan dilakukan di laboratorium komputer sekolah, dengan model tiga kali sesi. Aplikasi yang digunakan adalah CBT dari Pusmendik Kemdikdasmen. Para peserta diminta mengerjakan tiga mata pelajaran (Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) dengan masing-masing 8 soal dalam waktu 120 menit.
Salah satu peserta simulasi Falih Abinaya mengungkapkan proses TKA mirip dengan Olimpiade Sains Nasional (OSN).
“Kelas sebelas saya pernah ikut OSN, aplikasinya mirip. Ada kamera pengawas sehingga gerak gerik kita terlihat di aplikasi. Cukup mudah digunakan aplikasinya. Semoga hasilnya nanti tidak ambyar seperti TKA pertama tahun lalu,” harap Falih.
Salah satu Proktor TKA SMAN 1 Sigaluh Tuti Sumaryati mengungkapkan, selain kamera di perangkat murid, pengawas TKA nantinya juga dilengkapi dengan kamera pengawas.
“Jadi selain gerak gerik siswa, pengawas juga bisa melihat para peserta dari depan dengan kamera yang bisa digerakkan, diperbesar atau perkecil dan juga merekam. Jadi kemungkinan terjadi kecurangan peserta sangat minim. Alhamdulillah tadi semua lancar tidak ada kendala dalam simulasi ini,” jelas Tuti. (H Purwono)




