
Semarang, derapguru.com-Adat dan budaya nasional adalah pembeda serta ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia. Menjaga, merawat dan melestarikan adat budaya Jawa sebagai bagian dari budaya nusantara adalah tugas kita bersama. Demikian antara lain yang diungkapkan ketua DPD Permadani Kota Semarang, R.H Subardo SH saat memberi sambutan pada acara Wisudha Purna Wiyata, Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda, DPD Permadani Kota Semarang, Cabang Kecamatan Semarang Barat, Tugu, dan Ngalian (RATUALIAN), bertempat di gedung utama Museum Jawa Tengah, Ronggowarsito, Semarang, Rabu Pahing, 2 September 2026.
Dijelaskan, dalam upaya menjaga dan melestarikan adat budaya Jawa, DPD Permadani (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nusantara Indonesia) kota Semarang memiliki beberapa komunitas budaya yang secara konsisten mengajarkan tata cara adat budaya Jawa melalui Pawiyatan “Panatacara tuwin Pamedhar Sabda”, yang sampai saat ini sudah mendidik dan meluluskan 122 angkatan.
“Dalam upaya menjaga dan melestarikan adat budaya Jawa, melalui pawiyatan Panatacara dan Pamedhar Sabdo, DPD Permadani Kota Semarang saat ini sudah mewisuda 122 angkatan, termasuk angkatan 35 di cabang Ratualian ini” jelas RH Subardo, SH dalam bahasa Jawa halus dan dalam berita ini ditulis oleh Reporter dalam bahasa Indonesia.
Seminggu dua kali pertemuan
Ketua Cabang Permadani Ratualian, M Ng Tugino Rekso Carito Diprodjo menambahkan, pawiyatan Panatacara lan Pamedhar Sabda yang dipimpinnya, untuk setiap angkatan diselenggarakan selama 6 bulan dengan jadwal pertemuan seminggu dua kali, yakni pada hari Selasa dan Jumat. Pukul 19.00 – 22.00. Adapun materi yang diberikan meliputi berbagai aspek, seperti Basa tuwin Sastra Jawi, Kapanatacaran, Ngadat Tata cara Jawi, Sekar lan Gendhing, Kapermadanen, Renggeping Wicara, Pamedhar Sabda, Bedi Pekerti, Ngedi Busana Kakung lan putri, Padhuwungan, dan hal lain yang terkait dengan “kapanatacaran” dan “pamedhar sabda” yang semuanya diajarkan oleh para “Dwija” yang benar-benar kompeten dan mumpuni dibidangnya.

“Saat ini Permadani Cabang RATUALIAN, sudah mendidik siswa 35 angkatan. Setiap angkatan kami berikan pendidikan selama 6 bulan, dengan jadwal seminggu dua kali pertemuan, Selasa dan Jumat, mulai pukul 19.00 sampai 22.00”, ujar M Ng Tugino Rekso Carito Diprodjo menjelaskan.
Untuk wisudha purna wiyata angkatan 35 Cabang Ratualian ini ada 34 siswa, terdiri 9 siswa perempuan dan 25 siswa laki-laki, dengan latar belakang, pekerjaan dan usia yang berbeda beda. “Selain acara Wisudha Purna Wiyata, pada kesempatan ini juga digelar peragaan Siraman calon penganten putri gagrag Ngayogyokarto Hadiningrat yang diperagakan oleh para wisudhawan”, jelas Mas Ngabei Tugino Rekso Carito Diprodjo menambahkan.
Sesanti Tri Niti Yogya
Ketua kelas “bregada 35 Ratualian” , Harmoko yang merupakan salah satu siswa terbaik, mengaku sangat berterima kasih kepada para pamong dan para “dwijo” Permadani yang telah mengajarkan ilmu, pengetahuan dan ketrampilan yang sangat bermanfaat untuk menambah bekal kehidupan bermasyarakat, dengan landasan Sesanti Tri Niti Yogya.
“Ada tiga sesanti yang harus dijaga dan dipegang teguh oleh keluarga besar Permadani, yakni Hamemayu Hayuning Sasama, Dados Juru Ladosing Bebrayan Ingkang Sae, lan Sadhengah Pakaryan Tansah Ngremenaken Tiyang Sanes”, ujar Harmoko menjelaskan.
Kridha Sabda Budaya
Ketua Umum DPP Permadani, Dr Suyitno Yoga Pamungkas, MPd saat memberikan sambutan pada acara tersebut mengingatkan para siswa dan keluarga besar Permadani untuk terus menjaga dan melestarikan adat budaya Jawa agar terus berkembang sebagai kekayaan budaya nusantara dan memberikan manfaat dalam kehidupan masyarakat. Diingatkan juga agar kita tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita negatif yang sering muncul melalui media sosial akhir-akhir ini.

Mengakhiri sambutannya, Dr Suyitno Yoga Pamungkas, kemudian memberikan nama Sangha ” KRIDHA SABDA BUDAYA” , untuk Bregada 35 Permadani Ratualian.
“Kanthi meniko Bregada 35 Permadani Ratualian kula paringi kekancingan nami Sangha KRIDHA SABDA BUDAYA”, ucap Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) PERMADANI, Dr. Suyitno Yoga Pamungkas, MPd, yang juga Dosen pada Universitas PGRI Semarang ini, yang disambut para wisudhawan dengan berdiri dengan gerakan sembah kalbu, sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih.
Ingin jadi siswa Permadani
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Semarang, Indriyasari, S.E., M.A.P, yang hadir mewakili Walikota Semarang , Dr Agustina Wilujeng Pramestuti mengaku kagum dan memberikan apresiasi atas terseleggaranya acara Wisudha Purna Wiyata, Pawiyatan Panatacara dan Pamedhar Sabda oleh DPD Permadani Kota Semarang, Cabang Ratualian yang dinilai sangat baik, untuk menjaga dan melestarikan Adat Budaya Jawa, sebagai warisan budaya yang memiliki nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat.

“Selamat dan Sukses kepada para Wiudhawan, kami sangat mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan Wisudha Purna Wiyata, Pawiyatan Panatacara dan Pamedhar Sabda ini sebagai bagian penting dalam upaya menjaga dan melestarikan adat budaya Jawa, yang memiliki nilai luhur dalam khasanah budaya Nusantara”, tegas Indriyasari,
Karena ketertarikannya pada Budaya Jawa, Indriyasari pun mengaku akan ikut mendaftar sebagai siswa Permadani agar dalam kegiatan serupa nantinya bisa berbahasa Jawa dengan baik, dan lebih dari itu agar bisa mengambil Pelajaran dari nilai-nilai budaya Jawa yang luar biasa hebat.
“Setelah ini saya akan segera mendaftar untuk menjadi siswa Permadani agar saya nanti bisa berpidato dalam bahasa Jawa yang baik seperti bapak dan ibu”, ujar Indriasari disambut tepuk tangan hadirin.

Acara wisudha ini diawali dengan penampilan tari “Beksan” oleh dua Wisudhawati, Devi Chandra dan Rizki Wulan Artika, dan dua penari lain dari sanggar tari Larasati.
Turut hadir dalam acara tersebut, para pamong Permadani Ratualian, para Dwija, pengurus DPD, DPW, dan DPP Permadani, serta keluarga wisudhawan dan tamu undangan lainnya. (Pur)




