
Banjarnegara, derapguru.com-Jika bulan Juli lalu menjadi bulannya bapak-bapak dengan gelaran sepakbola Piala Dunia, maka Agustus ini benar-benar menjadi bulannya ras terkuat di dunia, emak-emak. Paling tidak hal itu terlihat di Desa Petambakan, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.

Hampir dua pekan pertama Agustus, setiap malam mereka membuat aneka pernak pernik hiasan Agustusan dan juga latihan lomba paduan suara tingkat desa.
Puncaknya Sabtu 16 Agustus 2026, digelar final lomba paduan suara di Aula Balai Desa lama Petambakan. Ratusan penonton memadati gedung dan jalan di depan gedung tersebut. Puluhan pedagang asongan juga tampak menata lapak. Rata-rata yang datang selain peserta dengan dandanan menor berseragam, juga didominasi oleh bapak-bapak yang momong anaknya karena ditinggal ibunya berlomba. Panitia bahkan sampai harus memasang layar lebar di luar gedung demi memfasilitasi penonton yang membludak. 17 paduan suara dari seluruh RT yang ada di Desa Petambakan ikut serta dalam ajang bergengsi memperebutkan piala Kepala Desa Petambakan ini. Tiap tim terdiri dari 15 peserta, sehingga dikali jumlah RT yang 17 maka sudah jelas ada 255 peserta.

Ketua Gerakan PKK Desa Petambakan Oktarina Isti Wardani mengucap terimakasih kepada seluruh RT yang telah berpatisipasi.
“Ini sungguh sangat menggembirakan karena jadi ajang ekspresi untuk ibu-ibu. Saya ucapkan terimakasih atas sambutan terhadap lomba ini yang sangat meriah. Kalah menang tidak masalah, yang penting kita rayakan Pitulasan,” ujar istri Kades Herry Setyo Pranadi ini.

Para peserta diwajibkan membawakan Mars PKK sebagai lagu wajib dan satu lagi bebas. Aneka lagu yang dipilih mereka rata-rata lagu tahun 90 hingga 2000 an, mulai dari Kopi Dangdut, Prau Layar bahkan ada pula yang membawakan lagu religi Lir Ilir. Namun ada juga yang membawakan lagu yang sedang populer saat ini seperti RT 2 RW 1 yang membawakan lagu Jogja Istimewa. Gerakan, cengkok dan seragamnya pun sangat variatif. Rata-rata memang didominasi kebaya, namun dengan paduan dan variasi beragam. Mulai dari selendang, mahkota hingga caping sehingga tampilan memang sangat heboh.
Adapun hasil lomba paduan suara, Juara 1 diraih RT 4 RW 1, Juara 2 RT 5 RW 1 dan Juara 3 RT 1 RW 2.
Ketua RT 5 RW 1 Slamet Sugiyanto berharap kegiatan ini tahun depan digelar kembali. Menurutnya meskipun merepotkan bapak-bapak karena harus momong anak yang masih kecil namun memberi efek positif.
“Efek positifnya bisa membangun bonding antara anak dengan bapaknya paling tidak selama ibu-ibu latihan hingga berlomba seperti saat ini. Saya yakin dengan menyanyi bersama selain menambah keakraban warga juga mengurangi stres ibu-ibu. Ini salon atau persewaan sergam juga laku keras, pedagang asongan juga kesleberan rejeki malam ini. Warga juga saya lihat hampir semuanya kelihatan, saling menyapa. Kalau bisa usul saya tahun depan digelar di lapangan desa sehingga penontonnya nyaman tidak umpel-umpelan,” harap Slamet. (Herni)




