
Banjarnegara, derapguru.com-Meskipun Taman Rekreasi Marga Satwa (TRMS) Serulingmas telah lama berdiri, namun jarang ada yang tahu bahwa di sana bisa berwisata 3 in 1. Ya, berwisata ke TRMS Serulingmas selain melihat aneka satwa, kita juga bisa sekaligus wisata religi dengan ziarah ke makam Ki Ageng Selamanik, serta melihat proyek besar masa kolonial bendungan Bandjar Tjahjana Werken (BTW).

Letak makam Selamanik ada di sebelah pojok selatan, dekat dengan kandang merak dan owa. Bangunan cungkupnya sederhana dengan bagian bawah tembok berbatu andesit dengan atap limasan bertingkat tiga. Kemungkinan bangunan dibuat di era 60 atau 70 an, karena belum ada kolom cor-coran pada tiap sudutnya, namun memakai batu bata berjajar empat, dengan campuran semen kapur. Di dalam cungkup berukuran 6 kali 4 meter itu, terdapat 1 buah makam besar yaitu makam Ki Ageng Selamanik, dan empat makam lain yang lebih kecil bangunanya.
Di hampir semua literatur di dunia maya, termasuk dalam buku muatan lokal Dawet Ayu Banjarnegara di tingkat SD, diceritakan bahwa Selamanik adalah tokoh pejuang yang membantu Pangeran Diponegoro melawan penjajah, yang dibantu oleh pengkhianat Jugil Awar-awar. Namun dalam literatur lain yaitu naskah babad Sarasilah Kang Pinundhi Kanjeng Sunan Giri Wasiat Ingkang Sumare Ing Dagan Badakarya, Selamanik disebutkan merupakan seorang Ki Adipati. Di tempat Selamanik itulah anak-anak dari Sunan Giri Gajah pertama kali singgah untuk berdakwah di kawasan barat Tanah Jawa. Ketiga anak tersebut adalah Pangeran Giri Wasiat, Panembahan Gripit dan Nyai Sekati.
Jika demikian, maka jaran waktu antara Selamanik satu dengan yang lain jelas ratusan tahun, artinya tentu orang yang berbeda. Mana yang benar? Tentu butuh penelitian lebih lanjut.
Adapun bendungan era kolonial Bandjar Tjahjana Werken, letaknya berada di seberang barat kandang rusa atau panggung hiburan utama. Proyek irigasi Bandjar-Tjahjana Werken dibangun secara bertahap antara tahun 1912 hingga 1938. Proyek besar ini dirancang oleh dua orang arsitek dan ahli teknik kolonial Belanda, yaitu E.W.H. Clason dan D. Snell. Sampai saat ini, meskipun bendungan itu sudah tergantikan dengan bendungan PLTA Panglima Besar Jenderal Sudirman, namun saluran irigasinya masih memakai saluran era kolonial. Pada masanya, proyek tersebut merupakan proyek strategis pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Nah, jika ke TRMS Serulingmas Banjarnegara, jangan lupa untuk mampir ke dua objek religi dan sejarahnya juga ya… (Heni P)




