
Wujil, derapguru.com-Kemajuan dan perkembangan teknologi Informasi saat ini telah membuat kita dan anak-anak kita begitu mudah mendapatkan informasi apapun yang dibutuhkan. Sehingga guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi murid. “Penggunaan Artificial Intelligence dan Chat GBT Adalah Sebuah Keniscayaan. Dengan AI dan Chat GBT, anak-anak kita begitu mudah mendapatkan informasi apapun yang dibutuhkan. Tetapi dengan begitu, bukan berarti kehadiran guru tak dibutuhkan lagi. Guru harus tetap hadir menjadi pendidik dan teladan bagi para murid”, ujar Wakil Ketua PGRI Jateng, Dr Hj Sri Suciati M Hum saat hadir dan membuka acara Konferensi Kerja II PGRI Kabupaten Semarang, di gedung PGRI Kabupaten Semarang, Rabu, 29 Juli 2026.

Sebelumnya Dr Hj Sri Suciati menyampaikan permohonan maaf atas ketidak hadiran Ketua PGRI Jateng yang juga Wakil Ketua Komite I DPD RI Dr Muhdi SH M Hum, karena beliau sedang menunaikan ibadah Umroh.
Dr Hj Sri Suciati yang juga mantan Rektor Universitas PGRI Semarang ini menjelaskan, bahwa kehadiran guru untuk para murid bukan sekedar mengajar, mentransfer ilmu pengetahuan, lebih dari itu. “Murid itu tidak butuh guru yang sempurna, tetapi guru yang bisa menjadi teladan, bisa menginspirasi, bisa memotivasi dan membangkitkan semangat belajar anak, membimbing dan mengembangkan potensi anak secara optimal, guna mewujudkan masa depan terbaik mereka”, jelas Dr Sri Suciati
Berikan Apresiasi
Dr Sri Suciati yang hadir bersama Ketua Biro Pembinaan dan Pengembangan Lembaga Pendidikan PGRI Jateng, Drs Adi Prasetyo, SH, MPd pada kesempatan tersebut juga memberikan apresiasi kepada Pengurus PGRI Kabupaten Semarang, atas semangat dan antusiasmenya dalam berorganisasi, diantaranya ditunjukkan dengan pelaksanaan Konkerkab II sesuai ketentuan AD/ART PGRI, pembayaran Iuran anggota telah Lunas, serta bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten untuk memperjuangkan kepentingan guru dan pendidikan.
Dikatakan, iuran anggota itu ibarat darahnya organisasi, program organisasi akan berjalan baik jika didukung dengan anggaran yang cukup. Di PGRI Jawa Tengah, iuran itu baru bisa mengcover 50 persen APBO. Kekurangannya ditutup dari hasil usaha dan bantuan anak lembaga serta alat kelengkapan organisasi.
Dr Sri Suciati juga mengaku bangga, karena sinergi PGRI dengan Dinas Pendidikan dan Pemkab terus mengawal urusan kepala sekolah, yang dikatakan saat ini ada 60 lebih, sekolah yang tidak ada kepala sekolahnya, dan harus diurus sampai pusat.
Dr Sri Suciati juga mengingatkan pihak pemerintah agar tidak membiarkan sekolah-sekolah kekurangan guru, sejalan dengan kebijakan tidak membolehkan guru Non ASN ada di sekolah negeri. Sedangkan guru yang pensiun setiap bulan terus terjadi.
“Daspen PGRI Jawa Tengah selama ini memberi santunan pensiun dengan kuota 800 orang dari 1000 lebih, anggota yang pensiun setiap bulan. Kita butuh ketetapan hati PGRI dan Pemkab untuk mengurus guru dan pendidikan. Jangan sampai anak-anak tidak ada yang mendidik, karena kebijakan pemerintah yang tidak tepat”, ujar Sri Suciati menegaskan.
Terkait agenda Konkerkab, Sri Suciati berharap program kerja yang ditetapkan betul-betul program yang menyentuh kebutuhan guru dan anggota PGRI.
Tema Konkerkab II
Ketua Panitia, Sarjono, MPd di awal acara menyampaikan laporan tentang Dasar pelaksanaan Konkerkab II, peserta, tujuan, tema dan sumber dana. Wakil Ketua PGRI Kabupaten Semarang ini menyatakan, PGRI berkomitmen selenggarakan Konkerkab sesuainAD/ART PGRI, yakni setahun sekali.

“Tema Konkerkab II kali ini adalah Guru Bermutu Indonesia Maju”, jelas Sarjono.
Ketua PGRI Kabupaten Semarang, Eko Lesmono, MPd dalam sambutannya menyatakan, Konkerkab II PGRI sebagai forum organisasi juga dimaksudkan untuk Sharing progres, diskusi berbagai persoalan guru dan pendidikan. “Kami harapkan agar semua peserta mengikuti kegiatan sampai akhir dan hasilnya disampaikan ke anggota di wilayah masing-masing, agar anggota paham apa yang telah dan akan dilakukan PGRI”, pesan Eko Lesmono

Turut hadir dan memberikan sambutan, Plt Kadinas Disdikbudpora, Budi Riyanto, SPd MPd. Dalam sambutannya, Budi Riyanto juga mengungkapkan persoalan kekurangan guru, karena di wilayah tersebut ada sekitar 200 -250 guru pensiun per tahun. (pur)




