
SEMARANG, derapguru.com — Pembelajaran Menulis Tidak Cukup Hanya menekankan produk akhir berupa tulisan, tetapi juga perlu memberikan porsi yang lebih besar pada proses penyuntingan (editing) dan revisi. Dalam proses editing tersebut, mahasiswa perlu dibiasakan melakukan pemeriksaan ejaan, tanda baca, dan efektivitas kalimat sebelum karya dinyatakan selesai.
Hal tersebut disampaikan Dosen UPGRIS, Dr Ngatmini MPd bersama Dr Suyitno MPd, Dr Siti Fatimah MPd, dan Drs Murywantobroto MPd saat memaparkan hasil penelitiannya terhadap hasil menulis resensi mahasiswa UPGRIS.
“Proses editing akan membuat mahasiswa mengetahui apakah tulisannya sudah bagus atau belum. Dan proses ini mestinya diberikan porsi yang lebih banyak dalam proses pembelajaran menulis,” urai Ngatmini yang menjadi ketua dari tim penelitian ini.
Ngatmini menambahkan, penelitian yang dilakukan timnya ini mengevaluasi resensi film Pepeling Ing Tlatah Jawi “Sengkala” berdasarkan enam aspek kebahasaan, yaitu penggunaan dan susunan kata dalam kalimat, susunan kalimat dalam paragraf, susunan paragraf dalam resensi, kohesi dan koherensi, penggunaan tanda baca, serta penggunaan huruf kapital dan nonkapital.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum mahasiswa telah memahami struktur dasar penulisan resensi. Sebagian besar tulisan telah memuat identitas film, sinopsis, kelebihan, kekurangan, dan simpulan. Artinya, mahasiswa telah memiliki pemahaman konseptual mengenai bentuk dan sistematika resensi,” ungkap Ngatmini.
Kendati demikian, lanjut Ngatmini, ketika hasil tulisan mahasiswa ditelaah secara lebih mendalam dari sisi kebahasaan, ditemukan berbagai persoalan yang patut menjadi perhatian. Kesalahan yang paling dominan terdapat pada penggunaan tanda baca. Dalam sejumlah resensi yang dianalisis, tingkat kesalahan tanda baca berkisar antara 30 hingga 65 persen.
“Kesalahan yang paling sering muncul adalah tidak digunakannya tanda koma pada kalimat majemuk serta penggunaan titik yang tidak tepat sehingga menghasilkan kalimat yang sangat panjang dan sulit dipahami. Selain itu, masalah penggunaan huruf kapital dan nonkapital. Banyak mahasiswa masih belum konsisten dalam menulis nama diri, nama tempat, judul karya, maupun penggunaan huruf kapital pada awal kalimat. Pada beberapa naskah bahkan ditemukan kecenderungan penggunaan huruf kapital secara berlebihan pada kata-kata umum yang seharusnya ditulis dengan huruf kecil,” tandasnya.
Selain itu, penelitian juga menemukan masih banyaknya kesalahan ejaan, penggunaan kata tidak baku, dan kalimat yang kurang efektif. Beberapa mahasiswa menulis kalimat yang terlalu panjang dengan banyak gagasan dalam satu konstruksi kalimat. Akibatnya, pesan yang hendak disampaikan menjadi kurang jelas dan pembaca harus bekerja lebih keras untuk memahami isi tulisan.
“Meskipun begitu secara umum mahasiswa telah memahami struktur dasar penulisan resensi. Sebagian besar tulisan telah memuat identitas film, sinopsis, kelebihan, kekurangan, dan simpulan. Artinya, mahasiswa telah memiliki pemahaman konseptual mengenai bentuk dan sistematika resensi,” pungkas Ngatmini. (za)




