
Di era kemajuan teknologi dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih saat ini memunculkan berbagai pandangan tentang peran guru. Kemajuan teknologi dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) telah menciptakan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, baik perubahan positif yang memudahkan dan memberi banyak manfaat maupun perubahan perilaku negative yang harus kita cegah.
Derapguru.com mengulasnya dengan menampilkan pendapat sejumlah nara sumber, dari guru, dosen, dan tokoh pendidikan.

Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., secara konsisten dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa peran guru tak tergantikan oleh teknologi, termasuk di era artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang semakin canggih. Dikatakan, Teknologi Adalah Alat, bukan pengganti. Prof. Unifah menekankan bahwa teknologi hanyalah alat bantu pembelajaran (tools). Teknologi tidak memiliki hati, empati, dan rasa humanis yang dimiliki oleh seorang guru.
Prof. Unifah menambahkan penjelasannya, bahwa guru adalah Inspirator dan motivator. Karena itu di era teknologi AI, guru harus bisa menyemangati, memberikan inspirasi, dan menanamkan karakter baik pada siswa. Adaptasi bagi guru adalah keharusan. Meskipun teknologi tidak bisa menggantikan guru, Prof. Unifah mengingatkan bahwa guru yang tidak menggunakan teknologi akan segera tergantikan oleh mereka yang menggunakannya. Karena itu guru diminta untuk terus berinovasi dan meningkatkan literasi digital.
Dalam konteks pendidikan, Prof Unifah menekankan pentingnya sentuhan manusiawi, interaksi langsung, “Human connection” atau hubungan antar manusia dalam upaya membangun kepercayaan diri siswa. “Kehadiran Guru di Era AI, bukan sekadar mengajar ilmu pengetahuan (yang bisa didapat dari AI), melainkan untuk mendidik, membimbing, dan membentuk karakter siswa. Sehingga kehadiran guru tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecanggihan digital”, tegas Prof Unifah di sela acara Konferensi Kerja PGRI Jateng, di Balairung Upgris, Sabtu 25 April 2026.
Konsep Ki Hajar Dewantara
Untung Sutikno, S.Pd., Kepala SD Negeri Losari Kidul 02 Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, menyatakan, di era teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang canggih dan menciptakan banyak perubahan, guru harus mampu beradaptasi, dengan tetap berpegang pada konsep dan filosofi pendidikan yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

Menurut Untung Sutikno, konsep dan filosofi Ki Hajar Dewantara tersebut tidak hanya relevan, tetapi justru menjadi fondasi yang sangat dibutuhkan di tengah-tengah kemajuan teknologi dan perubahan sosial saat ini.
Bagaimana implementasinya?
“Ing Ngarsa Sung Tuladha”, diterapkan saat ini, dalam dunia yang dibanjiri informasi (dan disinformasi). Dikatakan, sosok pendidik atau orang tua bukan lagi satu-satunya sumber ilmu, melainkan kompas moral. Artinya, guru harus menjadi contoh dalam literasi digital, etika berkomunikasi, dan karakter. “Guru harus melek teknologi, tidak gaptek agar bisa memberi teladan bagi siswa untuk belajar dengan teknologi. Teladan etika dari guru sangat dibutuhkan murid terutama dengan maraknya krisis karakter, perundungan, konten negatif, hoaks dan lain-lain. Murid membutuhkan sosok guru yang jujur, disiplin, sopan di medsos dan dunia nyata”, ujar Untung Sutikno menjelaskan.
Ditegaskan, keteladanan jauh lebih efektif daripada sekadar ceramah. “guru datang tepat waktu, dan tidak main HP saat mengajar, itu sudah merupakan “tuladha” atau contoh paling kuat dibanding ceramah berjam-jam tentang disiplin”, tegas Untik (panggilan akrab Untung Sutikno).
Berikutnya, “Ing Madya Mangun Karsa”. Menurut guru senior yang juga Wakil Sekretaris PGRI Kabupaten Brebes ini, diterapkan dalam pendidikan modern yang tidak berpusat pada guru tetapi berpusat pada siswa. “Guru bertindak sebagai fasilitator atau teman belajar”, jelas Sutikno.
Konsep tersebut relevan dengan kondisi saat ini dengan metode Project-Based Learning atau diskusi interaktif. “Guru masuk ke dalam dunia siswa, memahami kegelisahan mereka, dan memicu kreativitas dari dalam. Guru ikut di tengah murid, membakar motivasi & kolaborasi”, jelas Untung Sutikno.
Ditegaskan, bahwa hal tersebut merupakan kunci untuk membangun mentalitas pembelajar sepanjang hayat. Tanpa “Karsa” (kemauan), akses internet yang luas hanya akan menjadi sia-sia. Guru bukan satu-satunya sumber. Perannya jadi fasilitator proyek, diskusi kelompok, P5. Ini persis “ing madya”. “Kini, murid makin kritis, Generasi Z/Alpha tidak suka didikte. Mereka butuh diajak berpikir bersama, melakukan riset, dan diajak mencari solusi atas suatu kegagalan, bukan untuk disalahkan”, urai Sutikno.
Selanjutnya, “Tut Wuri Handayani”. Dijelaskan, prinsip ini mengakui bahwa setiap anak memiliki potensi unik dan kodratnya masing-masing. Tugas pendidik adalah mengamati dan mendorong, bukan memaksa.
Relevansinya dengan kondisi saat ini, kata Untung Sutikno, sangat selaras dengan konsep Kurikulum Merdeka dan pendidikan inklusif. Pendidik memberikan ruang bagi siswa untuk mandiri dan mengambil keputusan atas jalannya sendiri.
“Pada era di mana profesi masa depan sulit diprediksi, mendorong kemandirian dan rasa percaya diri siswa jauh lebih penting daripada memaksa mereka menghafalkan kurikulum yang kaku”, ujar Untung Sutikni menjelaskan.
Makan Bergizi Gratis (MBG)
Di tempat terpisah, Kepala SD Negeri 2 Mudal Kecamatan Temanggung, saat diminta pendapat tentang kebijakan bidang pendidikan yang menonjol di era pemerintahan Prabowo-Gibran, disebutkan salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Nur Akhlis yang juga Ketua PGRI Kabupaten Temanggung ini pun menyatakan, PGRI Kabupaten Temanggung mendukung program-program unggulan presiden dan wakil presiden terpilih, yakni program Makan Bergizi Gratis (MBG), Peningkatan kwalitas pendidik dengan bantuan belajar bagi guru yang belum sarjana, Bintek peningkatan kwalitas Guru Bimbingan Koseling, serta Pendidikan Bahasa Inggris di sekolah dasar.

Dikatakan oleh Nur Akhlis, semua itu menjadi hal yang sangat positif demi kemajuan bangsa Indonesia dalam menyambut Indonesia Emas tahun 2045. Meski demikian, Nur Akhlis menambahkan, dukungan tersebut disertai dengan sejumlah catatan evaluasi yang tajam bagi pemerintah pusat. “Meskipun tujuan pemenuhan gizi siswa itu sangat mulia untuk menciptakan generasi emas, pelaksanaannya tidak boleh mengorbankan pilar-pilar pendidikan lain yang sudah ada”, jelas Nur Akhlis.
Diungkapkan, kekhawatiran utama yang muncul, yakni potensi pergeseran alokasi dana pendidikan untuk membiayai program MBG. “PGRI Temanggung mewanti-wanti agar anggaran pendidikan yang sudah ada tidak dipangkas demi menjalankan program baru ini”, ujar Nur Akhlis menegaskan pendapatnya.
Pengembangan Mutu
Kemudian terkait visi “Pendidikan bermutu dan merata untuk semua”, Nur Akhlis menegaskan bahwa pendidikan yang berhasil bersandar pada Tri Pusat Pendidikan, yakni Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, agar pendidikan tetap maju di tengah kebijakan baru. Dengan adanya Tri Pusat pendidikan yang menjalin sebuah kolaborasi dan saling mendukung maka pendidikan akan lebih baik. Orang tua wali dan masyarakat harus menjadi mitra bagi guru. “Orang Tua harus lebih intensif mendampingi proses akademik anak saat di rumah, dan masyarakat pun diharapkan selalu memberi dukungan ide serta gagasan terbaik kepada sekolah demi tercapainya tujuan pendidikan”, ujar Nur Akhlis menjelaskan.
Nur Akhlis selanjutnya menilai kebijakan pemerintah sudah sangat bagus, terutama terkait Bantuan Operasional Sekolah (BOS) berdasar jumlah murid sebagai tolak ukur pemberian bantuan tersebut. Dikatakan, dari kebijakan tersebut sudah banyak yang dapat dilakukan sekolah, diantaranya; Pengembangan Perpustaakaan, Kegiatan Pembelajaran dan Ekstrakurikuler, serta pengembangan profesi pendidik dan tenaga kependidikan.
Namun demikian, Nur Akhlis memberi catatan, bahwa hal ini tidak dapat serta merta membiayai seluruh kebutuhan sekolah, mengingat tantangan yang harus dilakukan sekolah sangat besar, antara lain harus dapat melayani murid dengan berbagai keterampilan yang dibutuhkan, diperlukan adanya Sarana Prasarana yang modern, Lingkungan belajar yang nyaman, serta tenaga pengajar yang mempunyai skill khusus. “Jadi, itu semua menjadi tantangan berat, khususnya bagi sekolah Negeri yang notabane sekolah pemerintah yang harus Gratis”, ujar Nur Akhlis menjelaskan.
Karena itu, menurutnya perlu ada regulasi baru, agar sekolah negeri dapat menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, dalam upaya mengembangkan mutu pendidikan. “Dengan demikian antara sekolah Negeri dan sekolah Swasta dapat bersaing secara kompetitif dalam menyelenggarakan Pendidikan di negeri yang kita cintai ini”, jelas Nu Akhlis. (Pur)


