
KENDAL, derapguru.com — Teater Atmosfer kembali menggelar pertunjukan teater cerita lokal rakyat Kendal dengan naskah “Kali Damar” pada Sabtu, 18 April 2026 di Teras Nirwana, Boja, Kendal.
Berbeda dengan pertunjukan sebelumnya oleh Teater Atmosfer, Akhmad Sofyan Hadi atau yang akrab dipanggil Iyan tersebut membuat sebuah drama musikal dengan konsep kontemporer yang juga mengkolaborasikan sejumlah unsur seperti penari api, musik tradisi, silat, serta lagu yang familiar saat ini.
Sebagai Komunitas kesenian yang anggotanya juga berprofesi sebagai guru, drama musikal ini juga menggandeng siswi-siswi dari SMP Negeri 2 Brangsong sebagai penari, dan siswa SMA Negeri 2 Kendal sebagai aktor utamanya.
Pertunjukan ini merupakan kerjasama dengan dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Kendal. Akhmad Sofyan Hadi, selaku direktur Teater Atmosfer sekaligus sutradara pertunjukan Kali Damar menyampaikan bahwa pertunjukan ini diawali oleh kegelisahan beberapa pegiat seni Teater Atmosfer untuk mengarsipkan cerita rakyat lokal Kendal agar tidak punah.
“Pertunjukan ini memang sengaja mengambil cerita foklor Kendal, karena kegelisahan teman-teman yang ingin mengarsipkan cerita foklor yang masih berbeda-beda alurnya. Kita mencari data dan sumber buku, lalu kita alih wahana menjadi sebuah pertunjukan teater dengan bekerjasama dengan dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Kendal” kata Iyan.
Cerita Kali Damar berasal dari wilayah Weleri, yang menceritakan tentang Nyai Damariyah atau Sri Pandan adalah sosok wanita cantik yang diperebutkan oleh 2 pengikut Pangeran Sambong yakni Bagus Wuragil dan Denowo. Akan tetapi, Nyai Damariyah merasa tidak tenang dengan itu. Lalu Nyai Damariyah pergi ke tempat Ki Sidomukti yang letaknya di sebelah Timur Sambongsari. Di sana, Nyai Damariyah diperintahkan oleh Ki Sidomukti untuk mencuci beras (mesusi Beras) di sungai, dan menelusuri dimana letak berhentinya air cucian beras itu. Di tempat berakhirnya air pesusan itulah Nyai Damariyah bisa hidup tenang dan tidak akan diganggu siapapun. Air pesusan beras itu disebut orang dengan nama “Leri”.
Nyai Damariyah menelusuri sungai tersebut hingga berhentinya air leri itu, ternyata berhenti tepat dibawah dua pohon pandan yang tumbuh berdampingan dan ada pohon Lo disekitarnya. Akhirnya daerah itu dinamakan dengan “Weleri”. Sedangkan sungai yang menjadi tempat mesusi beras, akhirnya dikenal dengan nama “Kali Damar”
Pemilihan tempat yaitu Teras Nirwana, Boja juga merupakan gebrakan baru dari Teater Atmosfer untuk mencoba ruang panggung terbuka di tempat wisata. Hal ini terinspirasi dari pertunjukan-pertunjukan yang ada di Bali dan Prambanan.
“Teras Nirwana dipilih karena tempatnya yang bagus, megah, dan juga memiliki pemandangan yang indah. Kalau Prambanan bisa menjadi tempat pertunjukan Rama-Sinta, Kendal juga punya teras Nirwana yang bisa untuk pertunjukan” Ujar Iyan.
Teater Atmosfer berharap akan ada keberlanjutan pertunjukan alih wahana cerita rakyat atau foklor di daerah Kendal menjadi sebuah pertunjukan teater yang menarik perhatian masyarakat dan bisa menjadi arsip kabupaten Kendal.
“Dengan adanya pementasan Kali Damar ini, kami berharap ada ruang publik khusus di Kendal sebagai tempat tujuan pengunjung untuk menyaksikan cerita rakyat lokal Kendal sebagai pertunjukan khas dari Kendal sekaligus arsip kabupaten Kendal” pungkasnya. (Eva Dwi Susanti)




