
Banjarnegara, derapguru.com- Jika melewati kawasan Sekolah Islam Terpadu (SIT) Permata Hati Banjarnegara jangan kaget ketika menemukan kotak kerangkeng besar berwarna biru dan sudah terisi botol plastik. Ya, itulah rintisan Bank Sampah Sekolah hasil kreasi Bidang Lingkungan Hidup OSIS SMPIT Permata Hati Banjarnegara. Sabtu, 18 April 2026, Bank Sampah tersebut diluncurkan.
Ketua Bidang Lingkungan Hidup OSIS SMPIT Permata Hati Banjarnegara Madina mengungkapkan bahwa Bank Sampah tersebut merupakan wujud keprihatinan mereka terhadap situasi darurat sampah di Banjarnegara.
“Kita kan siswa yang tinggal di asrama, setiap hari kita menimbulkan sampah, terutama plastik. Daripada kita membebani petugas sampah dan juga nantinya sampah plastik mencemari lingkungan maka sebagai langkah awal kita membuat Bank Sampah ini agar minimal sampah botol plastik dapat dimanfaatkan kembali. Kerangkeng wadah bola kita modifikasi untuk jadi Bank Sampah, kita letakkan di sebelah kantin dan lapangan, tempat paling ramai dan rawan sampah plastik,” jelas Madina.
Anggota Bidang Lingkungan Hidup OSIS SMPIT Permata Hati Banjarnegara Fatiha Salma Haniyya mengatakan, ide bank sampah ini muncul dari melihat program di desanya yang terdapat kotak sedekah sampah.
“Di desa Petambakan, di depan Masjid Al Iman Baitul Hikmah, ada kotak sedekah sampah yang terdiri dari empat kotak. Untuk sampah plastik, kardus, logam dan beling semuanya terpisah. Minimal kita mulai dari sampah botol plastik dulu. Kita ingin meniru hal baik itu. Nantinya setelah penuh, botol plastiknya bisa kita kreasikan menjadi kerajinan atau kita jual kepada pengepul barang bekas,” tambah Fatiha.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup RI, Banjarnegara memang tengah berada dalam kondisi darurat sampah serius (sejak Februari 2025) akibat TPA Winong yang kelebihan beban (overload) karena 60 ton sampah harian dibuang ke sana. Bahkan hal itu memicu sanksi administratif dari KLHK. Situasi ini diperparah dengan hanya 10,95 persen dari total 272.000 ton sampah tahunan yang terkelola.
Sememtara itu sistem open dumping di TPA Winong seluas 1,8 hektar telah mencemari air tanah dan menghasilkan emisi metana yang mengancam kesehatan masyarakat sekitar, dan sampah plastik adalah komponen utama tumpukan sampah tersebut. (H Purwono)




