
Banjarnegara, derapguru.com-Sang surya sudah agak meninggi dari posisi terbitnya di ufuk timur. Embun di rerumputan lapangan SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara pun mulai menguap meninggalkan kesejukan. Meskipun tak ada gereja, namun burung-burung gereja asyik bernyanyi merdu sembari melompat-lompat di rerumputan, menghiasi suasana syahdu di lapangan. Siswa-siswi bergemuruh riuh memadati lapangan, satu per satu menata barisan.
Jumat pagi, 17 April 2026, SMA Negeri 1 Sigaluh melaksanakan apel pagi dalam rangka “Komitmen Bersama Siswa, Guru/Karyawan, dan Wali Murid SMA Negeri 1 Sigaluh dalam Mendukung Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah”.
Kegiatan ini bertujuan untuk menyadarkan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan serta isu-isu sosial yang ada di masyarakat.
Kegiatan apel pagi diikuti oleh siswa-siswi kelas X dan XI serta dibarengi dengan pelantikan kader Adiwiyata. Suasana apel berlangsung syahdu dan khidmat.
Sebanyak 50 siswa dilantik menjadi kader Adiwiyata yang diharapkan dapat menjadi pelopor dalam perilaku peduli lingkungan hidup. Para siswa yang dilantik mendapatkan syal berwarna hijau sebagai simbol cinta terhadap lingkungan dan kesiapan untuk menjaga lingkungan dengan segenap jiwa. Satu persatu syal itu diikatkan kuat-kuat oleh kepala sekolah, sembari setiap pundak ditepuk, laksana membebankan amanat.
Dalam amanatnya, Kepala SMA Negeri 1 Sigaluh Linovia Karmelita mengatakan agar para kader yang dilantik dapat menjadi motor penggerak sekolah dalam mewujudkan sekolah Adiwiyata.
“Ayo wujudkan SMA Negeri 1 Sigaluh menjadi sekolah Adiwiyata tingkat provinsi. Dukung program sekolah dengan baik. Anak-anak, mari kita bawa Banjarnegara keluar dari daerah rawan bencana dengan menanam pohon, menghijaukan Banjarnegara, serta mengurangi penggunaan sampah plastik,” ajak Linovia.
Ia juga berpesan kepada seluruh elemen sekolah, agar segala kegiatan yang ada di sekolah, diarahkan untuk terus menerus menjadikan sekolah yang telah ijo royo-royo ini menjadi semakin peduli terhadap lingkungan.
“Kegiatan piket di kelas harus melibatkan semuanya. Sapu bukan alat yang hanya dipegang perempuan. Menyapu adalah keterampilan hidup yang laki-laki pun wajib bisa. Kader Adiwiyata harus menjadi contoh bagi teman-temannya. Anak-anak OSIS, sebentar lagi hari Kartini. Selenggarakan kegiatan yang mengarah pada lingkungan hidup. Jadikan Kartini saat ini sebagai Kartini yang siap menjaga bumi,” tandas Linovia.
Ia juga menyoroti tentang keberadaan sampah, yang menurutnya Banjarnegara termasuk darurat sampah.
“Mari kita mulai dari sekarang, di rumah kita sudah harus mulai memilah sampah. Di sekolah, tong sampah sudah ada bagian masing-masing pemisahannya. Kalau ada daun kering, masukan ke dalam biopori di bawah-bawah pepohonan yang ada,” pungkas Linovia.
Akhir kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama guru-guru dan para kader Adiwiyata untuk mengabadikan kenangan dalam bingkai foto. Mereka tampak sumringah, meskipun jelas beban berat ke depan tengah menanti mereka.
Langkah awal menuju sekolah Adiwiyata, menuju sekolah hijau bebas sampah plastik, serta bijak dalam mengelola sampah telah diayunkan oleh sekolah ini. Tinggal menunggu aksi nyata mereka selanjutnya. (Reporter: Zalfa Izzati Oktifani siswi Kelas X 8 SMAN 1 Sigaluh)




