
SEMARANG, derapguru.com — Menjadi guru Bahasa Inggris masa depan tidak cukup hanya menguasai tata bahasa dan vocabulary. Mereka juga dituntut memiliki pengetahuan luas yang akan menjadi konten dalam pembelajaran bahasa Inggris, termasuk pengetahuan budaya.
Berangkat dari pemahaman inilah, para mahasiswa Magang UPGRIS menambah skill lain saat mereka “ngenger” di SMKN 7 Kota Semarang. Tak hanya belajar menjadi guru bahasa Inggris, mereka juga belajar bermain gamelan di sekolah tersebut.
Ketua Magang UPGRIS, Feri Febrian, menyampaikan bahwa kebetulan sekolah meminta untuk mendampingi kegiatan ekstrakurikuler bermain gamelan. Sekali menyelam minum air, mereka tak hanya menemani tapi sekaligus ikut belajar bermain gamelan.
“Di sini ada ekstrakurikuler karawitan ‘Sapto Budoyo’. Kegiatan ini berada di bawah pengawasan kesiswaan dan dibimbing langsung Bapak Sukarjo, seniman karawitan dari kota Semarang. Kami mendampingi siswa sekaligus belajar gamelan,” tandas Feri.
Sapto Budoyo sendiri merupakan wadah untuk mengasah minat dan bakat seni siswa di SMKN 7 Semarang. Ekstrakurikuler ini dikembangkan untuk melestarikan budaya Jawa di kalangan generasi muda. Setiap Selasa mereka berlatih bersama untuk menyatukan chemistry sesama pecinta seni karawitan.
Feri menambahkan, dalam berlatih dan mendampingi siswa, mahasiswa magang juga terlibat dalam permainan bersama para siswa. Tak hanya itu saja, mahasiswa Magang Bahasa Inggris di bawah bimbingan dosen Ajeng Setyorini SS MPd ini juga mengikuti evaluasi usai belajar gamelan.
“Evaluasi selalu dilaksanakan setelah kegiatan selesai untuk memastikan kualitas permainan dan pemahaman yang didapatkan terus berkembang,” ungkap Feri. (za)




