
SEMARANG, derapguru.com — Teknologi Artificial Intelligence (AI) telah merambah ke berbagai lini kehidupan. Termasuk dalam bidang penulisan akademik maupun penulisan ilmiah populer. Tidak sedikit platform AI yang menawarkan kemudahan-kemudahan untuk menghasilkan tulisan ilmiah.
Kendati demikian, pemanfaatan AI harus tetap ada batasannya. AI sebaiknya diposisikan sebagai rekan diskusi atau rekan mengali ide. Bukan alat untuk menghasilkan isi tulisan secara instan.
Pesan penting tentang batasan penggunaan AI tersebut disampaikan Tim Pengabdian UPGRIS yang terdiri atas Dr Rahmawati Sukmaningrum MPd, Dr Arso Setyaji MHum, Dr Asropah MPd, dan Faiza Hawa MHum saat memberikan Pelatihan Pemanfaatan AI untuk Penulisan Artikel Ilmiah di SMA PGRI 1 Pati, baru-baru ini.
“Pahami batas penggunaannya. AI hanya sebagai alat bantu. Bukan alat untuk menghasilkan tulisan secara instan. Harus ada batasan agar perkara orisinalitas tetap terjaga,” ungkap Rahmawati Sukmaningrum.
Rahmawati menambahkan, di beberapa negara lain penggunaan AI masih sangat di batasi. Di Australia misalnya, AI hanya boleh digunakan untuk alat brainstrorm. Semua penggunaan AI dalam menulis ilmiah dilarang, kecuali hanya untuk mendapatkan ide-ide segar. Tapi di banyak negara diperbolehkan asal tidak menyetuh pada perkara orisinalitas ide.
“Kita harus cerdas dalam pemanfaatan AI. AI ini sangat menunjang upaya kita. Tapi juga bisa merusak segalanya bila salah dalam pemanfaatannya,” tutur Rahmawati.
Rahmawati menambahkan, meskipun ada pembatasan luar biasa dalam pemanfaatan AI, ada beberapa AI yang masih bisa digunakan untuk mendukung penulisan ilmiah tanpa merusak orisinalitas. Beberapa di antaranya adalah AI yang digunakan untuk membantu mencari referensi dari jurnal-jurnal ilmiah bereputasi.
“Ada juga AI yang dapat digunakan untuk menata sumber pustaka secara otomatis. Atau AI yang dapat digunakan untuk menguji keabsahan sumber referensi dalam tulisan,” tambah Rahmawati.
Terkait dengan tujuan pelatihan, Rahmawati menegaskan bahwa pelatihan bertujuan untuk membantu para guru dalam memanfaatkan teknologi AI untuk menghasilkan karya ilmiah. Harapannya, setelah mengikuti kegiatan ini, mereka dapat lebih banyak menghasilkan karya ilmiah, tanpa merusak etika dan kaidah-kaidah penulisan ilmiah. (za)




