
SEMARANG, derapguru.com — Mengajar musik untuk anak-anak–terutama sekolah dasar–, bukanlah tentang membuat anak hafal lagu, tapi membuat anak mengalami musik. Konsep filosofis dalam pembelajaran musik inilah yang harus ditangkap dan diinternalisasi oleh para pengajar saat membelajarkan musik pada anak-anak.
Pandangan menarik tersebut disampaikan Dosen Seni PGSD UPGRIS, Dr Wawan Priyanto MPd, saat mengulas tentang pembelajaran musik dalam “ToT Mengajar Seni Asik” yang digelar Biro Seni dan Olahraga PGRI Jawa Tengah, baru-baru ini.
“Tidak sekedar nyanyi. Mengajar musik bukan tentang membuat anak hafal lagu. Tapi membuat anak mengalami musik,” tandasnya.
Wawan Priyanto–yang punya beken Wawan Coret ini–menambahkan bahwa ada beberapa konsep yang tidak tepat dalam memandang pembelajaran seni di sekolah dasar. Salah satunya adalah munculnya orientasi mengajar seni pada anak adalah untuk menciptakan seniman.
“Mengajar seni di SD itu bukan untuk menjadikan anak jadi seniman. Tapi belajar dengan seni,” tegas Wawan.
Kesalahkaprahan ini, lanjut Wawan, justru makin dipertegas dengan adanya gelaran Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Festival yang diselenggarakan Kemendikdasmen tersebut mempertemukan para siswa semua jenjang pendidikan di seluruh Indonesia, termasuk jenjang sekolah dasar.
“Akhirnya, pertarungannya (pertarungan lomba FLS3N tingkat sekolah dasar, red) bukan anaknya, tapi pelatihnya,” ungkap Wawan.
Dalam kesempatan tersebut, Wawan juga menekankan, bahwa untuk mengajar seni musik di sekolah dasar tidak dibutuhkan guru yang piawai bermain seluruh instrumen musik. Tapi hanya butuh guru musik yang bisa mengajak mereka bermain musik bersama-sama. (za)



