
SEMARANG, derapguru.com — Posisi Indonesia yang siapkan gunung berapi membuat wilayah ini rawan dengan bahaya bencana vulkanik. Tak hanya itu saja, lempeng tanah Indonesia yang tergolong muda dan terus bergerak serta saling bertumpuk, juga potensial untuk terjadinya bencana tektonik.
Belum lagi bencana terkait hidrologi murni, hidrometeorologi, heatwave, sampai bencana wabah penyakit. Semuanya menjadi ancaman nyata yang bisa-bisa saja datang sewaktu-waktu dan tanpa memberi aba-aba.
Kondisi inilah yang mendasari para Mahasiswa Magang UPGRIS di SMA Sultan Agung 1 Kota Semarang–di bawah bimbingan koordinator dosen Valdyan Drifanda SPd MPd–untuk melakukan sosialisasi tentang pentingnya mitigasi bencana. Kegiatan sosialisasi mitigasi bencana di sekolah yang biasa disebut dengan nama program ‘SPAB’ ini, di langsungkan di Aula SMA Sultan Agung 1 Kota Semarang, Rabu 1 April 2026.
Ketua Magang UPGRIS, Muhammad Dzaki Haidar, mengatakan SPAB adalah singkatan dari Satuan Pendidikan Aman Bencana. SPAB merupakan program strategis nasional Kemendikdasmen yang digunakan untuk melindungi warga sekolah (siswa, guru, tenaga kependidikan) apabila terjadi bencana.
“Program ini bertujuan membangun budaya siaga bencana, mengurangi risiko, dan menjamin keberlangsungan pendidikan. Kegiatannya terbagi dalam tiga bagian, mitigasi pra-bencana, penanganan darurat, dan pasca-bencana,” urai Dzaki.
Dzaki menambahkan dalam penerapannya, SPAB memiliki empat pilar utama: (1) Fasilitas sekolah yang aman, (2) Manajemen Bencana Sekolah, dan (3) Pendidikan pengurangan Risiko Bencana.
Selain sesi sosialisasi program, salah satu mahasiswa magang yang lain, Ainia Asfiya’i, juga memberikan edukasi tentang tanggap bencana. Para siswa diajak menonton video edukasi dan melakukan praktik langsung ketika tiba-tiba terjadi pada saat-saat sekolah berlangsung.
“Hal pertama yang dilakukan adalah tidak boleh panik. Panik akan membuat kita tidak jernih dalam berpikir. Yang perlu dilakukan pertama adalah mencari meja kokoh, jangan yang tidak kokoh, berlindung di bawahnya. Tapi ingat, yang jangan dekat tembok, berisiko tertimpa,” tutur Ainia.
Kegiatan lalu dilanjutkan dengan simulasi ketika terjadinya bencana, seperti bencana gempa bumi yang sering terjadi akhir-akhir ini. Siswa dipandu melakukan setiap langkah mitigasi, sehingga materi sosialisasi ini bisa dilihat dan dijalankan langsung oleh para siswa. (za)




