
ADA momen menarik dalam pementasan Tari Kecak di Kalangan Lelangon Pantai Pandawa dilangsungkan. Hanoman–kera putih–yang biasanya sangat hiperaktif, tiba-tiba malu ‘disawer’ buah pisang turis cantik Korea.
Tentu saja momen kocak itu memancing tawa seluruh penonton. Apalagi setelah menerima pisang, Hanoman menyilangkan ujung telunjuk dan unjung jempol tangan membentuk kode “love” ala Korea. Kompor meledak.

Pementasan cerita Ramayana dalam ruang bahasa yang berbeda memang unik. Meski sesekali sang narator menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tapi dominasi bahasa Bali memang menjadi sekat yang membatasi. Maka gesture menjadi kunci.
Tari Kecak adalah tari tradisional Bali yang mengisahkan cuplikan epos Ramayana. Pertunjukan ikonik ini menonjolkan tari yang diiringi vokal “cak” dari puluhan pria. Ketika suara “cak” menyatu, terbentuklah sebuah irama ritmis yang sangat indah.

Tari Kecak diciptakan pada tahun 1930-an oleh Wayan Limbak dan Walter Spies, yang mengadaptasi ritual Sanghyang (tradisi menolak bala) dan cerita Ramayana. Tarian ini menjadi sangat populer sehingga banyak dipentaskan di berbagai kegiatan komunitas Bali.
Khusus pada tarian kali ini, wira cerita yang diangkat masih tetap epos Ramayana. Akan tetapi, Ramayana yang ditampilkan tidaklah utuh. Lebih mengerucut pada lakon “Hanoman Duta” alias Hanoman yang sedang menjalankan tugas pencarian Dewi Sinta.

Tradisi Berbeda
Khoirunissa Puteri Almaida, mahasiswa Bahasa Inggris UPGRIS, mengatakan tampilan Tari Kecak sangat bagus. Tapi karena memang berasal dari budaya yang berbeda, perlu waktu untuk mencernanya.

“Bagus, tapi butuh waktu untuk terkoneksi langsung. Mungkin karena perbedaan latar budaya,” ungkap Alma.
Hal senada diungkapkan Dea Wahyu Nur Arifah, mahasiswa Bahasa Jawa UPGRIS. Dea merasa tertarik dengan gerak tari khas Bali yang dimainkan para tokoh-tokohnya.

“Bagus tariannya. Karakter khas tari dari Bali yang kuat,” ungkap Dea.
Cara pandang yang berbeda disampaikan, Yashinta Aulia Ramadani, mahasiswa Bahasa Inggris UPGRIS. Dia lebih melihat sisi filosofinya ketimbang permainan yang ditampilkan.

“Lebih tertarik nilai filosofinya. Ada nilai-nilai yang bisa kita ambil untuk menambah kekayaan batin kita,” ungkap Yashinta. (za)




