
DALAM naskah Kuna Ramayana karya Maharsi Valmiki, Rahwana disebut sebagai pemuja Dewa Shiva yang taat. Begitu taatnya sampai dia dianugerahi Chandrahasa (Pedang Bulan) milik Shiva. Kesalihan dan kepatuhan Rahwana sebagai pemeluk yang baik tiada pernah diragukan.
Di sisi lain, sebagai seorang raja, Rahwana juga disebut sebagai raja yang luar biasa. Di tangannya, Alengka menjadi kerajaan yang besar dan makmur. Rakyatnya sejahtera dan berkecukupan. Dia sangat dipuja dan dicintai rakyatnya. Bahkan, banyak perempuan merasa bangga bila diperisteri Rahwana. Tak mengherankan bila istananya dipenuhi isteri-isteri cantik yang mencintainya.

Satu-satunya kesalahan Rahwana hanyalah menculik Dewi Sinta. Kendati demikian, sebenarnya kesalahan itu tidaklah murni kesalahannya. Sebab dulu, ketika Dewa Shiva memintanya untuk menyebutkan hadiah atas pemujaannya, pada saat bersamaan melintaslah Dewi Laksmi, sehingga dia pun mengatakan ingin memperisteri sang Dewi.
Dewa Shiva dengan berat hati mengatakan tidak bisa mengabulkan keinginannya. Sebab Laksmi adalah isteri dari Dewa Wisnu. Tapi bila Rahwana bersikeras ingin mendapatkannya, maka dia diizinkan untuk menikahi titisannya, apabila sang dewi menitis ke dunia. Dan izin inilah yang menjadi awal dari semua petaka.

Tak lama, Dewi Laksmi benar-benar menitis. Dia lahir dalam wujud l Dewi Sinta. Sayangnya, ketika Laksmi menitis, Dewa Wisnu juga menitis ke dunia. Seumpama saja mereka tidak menitis bersama, atau terpaut seratus tahun saja, tragedi perang itu tidak akan pernah terjadi.
Maka terjadilah segala huru-hara, kekacauan, dan perang besar yang menghancurkan, sebagaimana digambarkan dalam Sendratari Ramayana yang digelar di Indoor Teather Ramayana, Senin malam tadi, 19 Januari 2026. Dalam pertunjukan tersebut, Rahwana digambarkan sebagai raja raksasa yang bengis dan kejam. Tak tampak sama sekali, Rahwana yang bersahaja sebagai “bhakta” (pemuja) dari Shiva.

Dan seperti biasa, penjahat selalu kalah dan pahlawan selalu menang di akhir cerita. Rahwana tumbang, Alengka tinggal arang. Dan sejarah kemudian dituturkan bagi pemenang. Tiada lagi Rahwana yang salih. Rahwana yang dicintai rakyatnya.
Sebuah destinasi wisata yang sarat dengan pelajaran moral dan etika. (za)




