
SEMARANG, derapguru.com — PGRI Jawa Tengah tidak sepakat dengan kebijakan pemerintah provinsi Jawa Tengah yang berencana mengembalikan kebijakan 6 hari sekolah per pekan. Untuk itu, PGRI Jawa Tengah memaparkan pandangan yang berbeda, yang diharapkan bisa menjadi dissenting opinion, sebelum pemerintah menerapkan 5 atau 6 hari sekolah per pekan.
Kecenderungan PGRI Jawa Tengah untuk mendukung 5 hari sekolah tersebut disampaikan langsung Ketua PGRI Jateng yang juga Wakil Ketua Komite I DPD Jateng, Dr H Muhdi SH MHum, dalam wawancara yang disiarkan secara live oleh TVRI Jawa Tengah, Kamis sore ini, 15 Januari 2026.
“Kalau ukurannya dibandingkan (secara jumlah jam pelajaran), 5 hari sekolah atau 6 hari sekolah, jamnya toh tetap sama. Tidak ada pengaruh signifikan (terhadap jam pelajaran yang ditempuh siswa),” ungkap Muhdi.
Muhdi mengingatkan, kebijakan sekolah 5 hari per pekan (semula 6 hari) merupakan kebijakan pemerintah pusat yang telah diterapkan sejak tahun 2017 dan memang bersifat opsional. Tujuan mengubah 6 hari sekolah menjadi 5 hari sekolah, esensinya adalah untuk memberikan lebih banyak ruang bagi anak untuk hidup bersama keluarga dan masyarakat.
“(Meskipun bersifat opsional) menurut hemat saya, pemerintah pusat sekarang lebih condong ke 5 hari sekolah per pekan, karena program ini lebih selaras dengan kebijakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, di mana anak juga didorong untuk bisa bermasyarakat,” ungkap Muhdi.
Pengembangan Diri
Muhdi juga menyampaikan, bahwa kecenderungan PGRI Jawa Tengah untuk bersepakat dengan 5 hari sekolah, adalah untuk memberikan waktu yang cukup bagi guru dapat mengembangkan diri. Dengan 5 hari sekolah, guru memiliki cukup waktu yang memadahi untuk belajar atau mengikuti pelatihan-pelatihan peningkatan kompetensi lainnya
“Ini juga selaras dengan pidato Mendikdasmen Abdul Muti dalam peringatan Hari Guru Nasional tahun 2025 yang mewajibkan guru untuk belajar minimal satu hari dalam satu pekan. Ini cukup menggambarkan kecenderungan pemerintah pusat pada (kebijakan) 5 hari sekolah,” ungkap Muhdi.
Di samping itu, Muhdi juga menilai, kebijakan 5 hari sekolah juga memberikan waktu yang cukup untuk siswa dalam mengembangkan bakat minatnya. Pasalnya, tidak semua bakat minat bisa ditampung dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
“Dengan 5 hari sekolah, anak-anak memiliki banyak waktu untuk bisa mengembangkan diri secara lebih maksimal. Mereka bisa berlatih bersama klub atau tempat lainnya yang tidak semuanya bisa ditampung ektrakurikuler,” ungkapnya.
Jangan sampai, lanjut Muhdi, bakat-bakat emas anak pada akhirnya tidak berkembang atau terbuang percuma karena kurangnya waktu untuk pengembangan diri. Padahal esensi sekolah adalah untuk pengembangan diri bagi anak bangsa.
Tren 4 Hari
Dalam kesempatan tersebut, Muhdi juga membeberkan fakta baru, bahwa saat ini sekolah-sekolah luar negeri sudah tidak lagi berdebat soal 5 hari atau 6 hari sekolah. Di negara-negara maju, mereka justru mulai menjajaki penerapan 4 hari sekolah per pekan.
“Tren dunia, di negara-negara maju, sekarang sudah banyak yang pindah ke 4 hari, seperti di beberapa negara Amerika. Maka menurut saya, mempertahankan 5 hari sekolah, jauh lebih baik (ketimbang mengubahnya kembali ke 6 hari sekolah per pekan),” tutur Muhdi.
Muhdi juga mengaitkan kebijakan 5 hari sekolah dari isu efisiensi yang sedang digalakkan pemerintah Prabowo-Gibran. Menurutnya, upaya untuk mengembalikan sekolah menjadi 6 hari per pekan, berpotensi kontraproduktif dengan kebijakan efisiensi.
“Sekolah 5 hari jelas lebih hemat waktu, listrik, dan air. Orang tua juga tidak perlu menyediakan uang transport, uang jajan, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya,” tandas Muhdi. (za)




