
Derapguru.com
39th ASEAN Council of Teachers + Korea (ACT+1) Convention di Waterfront Cebu City Hotel menjadi rangkaian acara internasional dengan nuansa penuh refleksi. Setelah serangkaian diskusi panel, laporan negara, hingga malam persahabatan, forum ini mengesahkan resolusi bersama sekaligus menyerahkan bendera tuan rumah kepada penyelenggara berikutnya. Namun yang paling menggaung ke seluruh peserta adalah tema utama: “Educators: Humanizing Education Amidst Rapidly Changing Landscapes.”
Tema ini bukan sekadar jargon, melainkan panggilan serius bagi dunia pendidikan, termasuk Indonesia, untuk menjaga wajah kemanusiaan di tengah gelombang digitalisasi. Delegasi PGRI Jawa Tengah, yang hadir aktif dalam setiap sesi, memandang tema ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan di Tanah Air.
*Kemanusiaan di Tengah Teknologi*
Tantangan utama pendidikan Indonesia saat ini adalah mengelola derasnya arus teknologi. Program Merdeka Belajar mendorong guru dan siswa untuk akrab dengan digitalisasi. Mulai dari pembelajaran berbasis platform, asesmen daring, hingga penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran, sudah menjadi bagian sehari-hari di banyak sekolah, termasuk di Jawa Tengah.
Namun di balik semua itu, ada risiko: pendidikan kehilangan sentuhan manusiawi jika guru hanya sekadar operator teknologi. Inilah yang diingatkan forum ACT+1. Sonny Angara, Sekretaris DepEd Filipina, bahkan menekankan agar pendidikan tetap berorientasi pada anak, tidak ada yang tertinggal, sekalipun teknologi menjadi penghela utama. Pesan ini terasa relevan dengan kondisi Indonesia, di mana kesenjangan akses digital masih nyata antara kota dan desa.
*Peran Guru Sebagai Mentor*
Dr. Gilbert T. Sadsad, Ketua ACT+1 sekaligus Presiden PPSTA, menyebut guru bukan lagi sekadar penyampai pengetahuan, tetapi mentor, inovator, dan pembangun jembatan antarbangsa. Refleksi ini sangat mengena bagi PGRI Jawa Tengah. Guru tidak cukup hanya menguasai materi, melainkan harus menjadi pendamping yang memahami latar belakang siswanya, dari keluarga sederhana hingga mereka yang bergulat dengan keterbatasan fasilitas belajar.
Di Jawa Tengah, banyak sekolah telah mencoba menghidupkan filosofi ini. Misalnya, program literasi harian, proyek berbasis komunitas, hingga kurikulum yang memberi ruang kreativitas siswa. Semua bertujuan agar anak didik tidak hanya pintar secara kognitif, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi yang peduli, empatik, dan berkarakter.
*Solidaritas Regional, Inspirasi Lokal*
Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. menegaskan pendidikan harus adaptif, inklusif, dan resilien. Pernyataan ini bersambut dengan upaya Indonesia dalam memperjuangkan pemerataan mutu guru dan sarana. Di Jawa Tengah, PGRI melalui SLCC aktif menjembatani kesenjangan itu dengan pelatihan daring, forum komunitas belajar, hingga advokasi kebijakan daerah.
“Semangat humanizing education meneguhkan kembali jati diri guru Indonesia: hadir bukan hanya untuk mengajar, tetapi untuk membimbing dengan hati. Dari Cebu, kami pulang dengan energi baru untuk membumikan nilai kemanusiaan ini di ruang-ruang kelas Jawa Tengah,” ujar Dr Saptono Nugrohadi Wakil Sekum PGRI Jawa Tengah.
*Tantangan dan Harapan*
Refleksi dari Cebu juga membuka kesadaran bahwa pendidikan Indonesia menghadapi tiga tantangan mendasar. Pertama, kesenjangan digital yang membuat akses pembelajaran tidak merata. Kedua, beban administrasi guru yang masih sering menyita waktu untuk benar-benar mendampingi siswa. Ketiga, tekanan globalisasi yang menuntut siswa siap berkompetisi di panggung internasional.
Namun justru di titik inilah relevansi humanizing education terasa. Guru perlu kembali menempatkan empati, kehadiran, dan kesadaran sebagai inti pengajaran. Teknologi harus dilihat sebagai alat, bukan tujuan. Data hasil asesmen boleh jadi penting, tetapi yang lebih penting adalah kisah tiap anak yang tumbuh dengan percaya diri dan merasa dihargai.
*Dari Cebu ke Jawa Tengah*
Penutupan ACT+1 di Cebu tidak hanya menandai berakhirnya forum, tetapi juga membuka babak baru bagi guru-guru di Asia Tenggara dan Korea Selatan. Solidaritas lintas bangsa menjadi modal berharga untuk menatap masa depan pendidikan yang lebih adil dan manusiawi.
Bagi PGRI Jawa Tengah, tema humanizing education adalah pengingat untuk terus bergerak dengan hati. Di ruang-ruang kelas, di desa maupun kota, pesan ini bisa diwujudkan lewat pembelajaran yang berpusat pada murid, pendampingan yang personal, serta solidaritas antarguru yang kuat.
Forum internasional ini mengajarkan satu hal penting: di tengah lanskap pendidikan yang berubah cepat, nilai kemanusiaanlah yang membuat guru tetap relevan dan bermakna. Dari Cebu ke Jawa Tengah, pesan itu kini menunggu untuk benar-benar dibumikan.




