
SEMARANG, derapguru.com — Bahasa Mandarin adalah bahasa yang menggunakan nada bahasa atau ‘cengkok’ dalam pelafalannya. Penggunaan cengkok yang berbeda akan menghasilkan pemaknaan yang berbeda.
Aspek cengkok–dalam ilmu bahasa dikenal sebagai aspek suprasegmental— inilah yang ditekankan Praktisi Bahasa Mandarin, Neni Kurniawati MPd, saat memberikan materi dalam “Mandarin Hours” di Language Service Center (LSC) Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UPGRIS, Selasa 10 Maret 2026.
“Bahasa Mandarin ini bahasa yang pakai nada. Kalau terbiasa menggunakan bahasa Inggris, tolong dihilangkan nadanya. Nada yang berbeda bisa memiliki makna yang berbeda,” tutur Neni.
Neni menambahkan, untuk mempelajari dasar-dasar bahasa Mandarin salah satunya adalah mempelajari sapaan. Untuk menyapa atau menanyakan kabar satu orang bisa menggunakan 你好吗 (Ni Hao Ma; Apa kabar?).
“Untuk yang banyak orang bisa menggunakan 大家好 (Dàjiā Hǎo; Hallo Semuanya). Dan tentu saja pengucapannya dengan menggunakan nada yang sesuai,” urai Neni.
Kepala Language Service Center (LSC) LSP UPGRIS, Dr Sukma Nur Ardini MPd, menyampaikan program “Mandarin Hours” ini merupakan salah satu program untuk membekali mahasiswa dan dosen kemampuan berbahasa Mandarin. Program ini disiapkan bagi mahasiswa dan dosen UPGRIS yang sekadar ingin belajar atau untuk program pertukaran/magang mahasiswa dengan kampus-kampus berbahasa Mandarin.
“Program ini juga kami siapkan agar mahasiswa UPGRIS memiliki daya saing global, terutama di wilayah Asia,” urai Sukma.
Sukma menambahkan, setiap peserta program akan dilatih dalam delapan sampai sepuluh kali pertemuan. Selanjutnya, mereka akan mengikuti tes untuk mendapatkan sertifikasi kemampuan dasar bahasa Mandarin.
“Ini gelombang pertama. Nanti akan kami buat juga gelombang-gelombang selanjutnya,” tutur Sukma.
Kepala Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UPGRIS, Dr Perdana Afif Luthfy MT, menyampaikan bahwa program ini diawali dari permintaan perusahaan tempat magang industri mahasiswa yang ternyata banyak perusahaan dari Tiongkok. Mereka memberikan saran untuk membekali mahasiswa dengan dasar-dasar bahasa Mandarin.
“Selain itu, program ini juga menjadi support system bagi Kantor Urusan Internasional (KUI) yang biasanya memberangkatkan mahasiswa ke Tiongkok. Mahasiswa-mahasiswa yang akan berangkat ke Tiongkok itu digemblengnya di tempat ini, supaya mereka memiliki bekal kecakapan komunikasi dasar bahasa Mandarin,” tandas Afif. (za)




