
DEMIKIAN catatan singkat Dr Saptono Nugrohadi MSi MPd, wakil Sekretaris Umum PGRI Jateng yang juga mantan Guru Berprestasi Nasional ini saat diminta pendapat tentang refleksi Pendidikan tahun 2025. Mentor berbagai pelatihan guru ini mengungkapkan beberapa asumsi yang perlu diuji, diantaranya, bahwa semua sekolah sudah siap digitalisasi. Padahal kesenjangan infrastruktur dan literasi digital masih nyata di berbagai daerah. Asumsi kedua, bahwa pelaksanaan kurikulum satuan pendidikan otomatis bermakna.
“Tanpa pendampingan dan refleksi guru, bisa saja hanya formalitas administrative,” ujar Dr Saptono.
Dan asumsi ketiga, bahwa siswa Gen Z sudah otomatis adaptif. Sementara, menurut Saptono banyak siswa masih “struggle” dengan fokus, regulasi diri, dan literasi numerasi.

Dijelaskan, pendidikan bukan soal siapa paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi siapa yang paling jeli membangun konektivitas makna antara siswa, guru, dan tantangan masa depan. Oleh karenanya, kata Dr Saptono, ada beberapa Rekomendasi aksi mendatang yang perlu dilakukan;
Pertama, Redesain Program Sekolah: Selaraskan RKJM dengan 8 dimensi profil lulusan, bukan sekadar target akademik; Kedua, Optimalkan KKA dan Coding: Jadikan coding bukan sekadar pelajaran baru, tapi alat berpikir algoritmik dan solutif; Ketiga, Projek Kolaboratif Lintas Mapel: Perkuat pembelajaran berbasis masalah nyata, lintas mata pelajaran, dan lintas nilai; Keempat, Pendampingan Guru: Jangan tinggalkan guru dalam hutan digital, siapkan sistem mentoring berkelanjutan; Kelima, Refleksi dan Jurnalisasi Sekolah: Dokumentasikan praktik baik, tantangan, dan solusi agar bisa dievaluasi dan direplikasi.
Guru inspiratif yang rendah hati ini juga mengingatkan adanya masalah klasik pembangunan pendidikan Indonesia yang masih ditemukan di tahun 2025, yakni ketergantungan pada model blok grant dan minimnya kesinambungan program.
Percaya Diri dan Kerja Keras
Pandangan lain tentang Pendidikan diungkapkan Guru Besar Universitas PGRI Semarang, Prof Dr Harjito MHum. Prof Jito menyebut era sekarang bukan lagi sebagai era digital, tetapi era AI, era kecerdasan imitasi atau kecerdasan tiruan. Prof Jito melihat masyarakat pendidikan yang dimaksudkan di sini, pendidik dan siswa, dalam 3 kelompok. Kelompok pertama khawatir dalam menggunakannya, kedua menggunakannya dengan sangat penuh percaya, dan ketiga tengah-tengah alias menggunakan dalam batas-batas tertentu.

Kelompok tengah-tengah ini menurut prof Jito masih sedikit. Lebih banyak yang khawatir dan yang sangat percaya terhadap AI, atau hal-hal yang berkaitan dengan sumber dari internet. Karena dua titik ekstrem itu, dalam satu sisi menjauhi, di sisi yang lain gampang sekali percaya sehingga mudah termakan hoax, apa yang ada di internet sangat dipercaya dan dianggap kebenaran mutlak.
“Artinya, masyarakat kita masih tertatih-tatih dalam era AI ini. Maka tugas kita dalam dunia pendidikan adalah mempertebal yang tengah-tengah tadi, bagaimana menggunakan dengan bijak, cermat, dan hati-hati karena memang tidak mungkin untuk tidak menggunakannya apalagi memusuhinya,” ujar Prof Jito mengingatkan.
Mengenai caranya bagaimana, menurut Prof Jito adalah dengan sikap berfikir kritis. Dijelaskan, memaknai berfikir kritis sebagai upaya untuk menganalisa kelebihan dan kekurangan dalam segala hal, berusaha mendapat informasi yang mendalam dan beragam dari berbagai perspektif. Dikatakan, kelemahan cara ini memang tidak dapat mengambil tindakan dalam waktu yang cepat. Tetapi kelebihannya adalah kita cermat dan hati-hati. Dan hal ini dapat dicapai manakala guru dan siswa memiliki kemampuan membaca, menyimak, dan melihat dengan cermat.
“Maka, pelatihan atas membaca dan menyimak perlu ditingkatkan. Apabila telah memiliki kemampuan berfikir dan bersikap kritis, era AI ini akan dapat kita manfaatkan dengan bijak dan dan mudah,” tambahnya.
Bonus Demografi
Berbicara tentang bonus demografi dan peluang mewujudkan Indonesia Emas 2025, Prof Jito mengungkapkan, bahwa bonus demografi memang harus dikaitkan dengan pendidikan yang bermutu. Karena tanpa pendidikan bermutu justru akan menyebabkan tingkat pengangguran yang tinggi dan persoalan fisik serta sosial kemasyarakatan. Dikatakan, pendidikan bermutu sebenarnya berangkat dari tujuan “mencerdaskan kehidupan bangsa” dan “memajukan kesejahteraan umum” yang terdapat dalam UUD 1945.
Cerdas dan makmur, dua pasangan yang saling melengkapi. Dan Perlu ditambah satu yaitu sehat. Artinya, proses dan produk dunia pendidikan kita pada akhirnya adalah masyrakat yang cerdas, makmur, dan sehat secara fisik dan mental.
Menurut Prof Jito, MBG, pendirian sekolah-sekolah yang berkualitas, dan 7 kebiasaan anak indonesia hebat, dan program yang lain adalah dalam rangka mewujudkan Indonesia emas 2045.
“Fase kita sekarang ini sedang melaksanakan itu. Selama ini semua dilaksanakan dengan benar dan cermat, saya yakin Indonesia menjadi bangsa besar dan menjadi 4 negara dengan kekuatan ekonomi besar di dunia”, ujar Prof Jito optimis.
Dan untuk mewujudkan ini perlu kepercayaan diri dan kerja keras serta keikutsertaan semua pihak, semua kalangan. “Tahun baru 2026 adalah saat yang tepat untuk percaya diri sebagai bangsa dan negara bahwa kita mampu dan kita bisa”, ujar Prof. Jito memberi semangat. (pur)




