
SEMARANG, derapguru.com — Anak-anak berkualitas, yang memiliki kecakapan ilmu di atas rata-rata hanya 11 persen saja yang bersedia menjadi guru. Bagi anak-anak terbaik, guru masih menjadi profesi yang belum menyakinkan karena dipenuhi faktor ketidakpastian.
Fakta tersebut diungkap Ketua Umum PB PGRI, Prof Dr Unifah Rosyidi MPd, di sela kehadirannya dalam acara Halal Bihalal Keluarga Besar PGRI Jawa Tengah yang digelar di Balairung UPGRIS Kampus Cipto Semarang, Sabtu 4 April 2026.
“Pemerintah bilang profesi guru itu penting dan sangat dibutuhkan. Tapi faktanya hanya 11 persen anak-anak terbaik mau menjadi guru,” ungkapnya.


Prof Unifah menyayangkan kondisi yang berlaku saat ini. Ketika pemerintah mengatakan pendidikan penting dan harus menjadi yang utama dipikirkan. Tapi kenyataannya, kepentingan-kepentingan bidang pendidikanlah yang paling sering jadi korban.
“Para guru bisa memahami bila saat ini sedang krisis. Tapi pendidikan mestinya menjadi bagian pertama yang dipikirkan, bukan yang pertama untuk dikorbankan,” ungkap Prof Unifah.


Di luar itu, Prof Unifah juga menyoroti masalah pengangkatan guru yang belum beres serta belum mampu menutup kebutuhan guru. Bahkan, sorotan lainnya diarahkan pada minimnya program-program pemerintah dalam meningkatkan kemampuan guru.
“Selama ini justru PGRI-lah yang banyak membantu meningkatkan kompetensi. Kalau mau fair, nyaris tiap hari, PGRI di semua tingkatan, menggelar pelatihan secara online. Kenapa online? Karena bila tiap person datang, itu mahal sekali,” urainya.


Langkah-langkah sporadis peningkatan kualitas guru seperti ini, lanjut Prof Unifah, mestinya diadopsi pemerintah dan dibuatkan sistemnya. Karena sistem itu memang harus diciptakan pemerintah, agar ada program pelatihan guru berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas para guru.
“Jadi spending ya, tentang pengeluaran uang dan sebagainya. Itu harus ada struktur (sistem) yang berpihak pada kepentingan para guru. Itu yang kami harapkan. Kalaupun ini belum, kami tidak akan pernah berhenti bersuara, untuk menyatakan bahwa kalau ingin pendidikan maju, jangan tinggalkan guru,” tandas Prof Unifah. (za)




