
SEMARANG, derapguru.com — Ustadz yang juga artis film “Ketika Cinta Bertasbih”, M Cholidi Asadil Alam, mengingatkan pentingnya menjaga integritas. Dalam pekerjaan apapun, termasuk bidang keartisan, mereka yang ingin sukses adalah mereka yang selalu menjaga integritas.
Perkara yang sekiranya akan menodai integritas harus konsisten dihindari. Apalagi dia sudah berjanji pada orang tuanya hanya akan bermain film yang islami. Maka dari itu dia selalu selektif terhadap film-film yang ditawarkan padanya.
Bahkan, demi menjaga integritas, Ustadz Cholidi pernah menolak tawaran main film yang bayarannya naik 90 persen. Masalahnya film tersebut meskipun menggunakan istilah Arab, dan terlihat islami, tapi ada adegan berbau urusan seksual.

“Alhamdulillah, sebelum ambil gambar ada orang dekat yang menelpon dan memberi tahu,” urai Ustadz Cholidi saat mengisi acara Peringatan Nuzulul Qur’an dan Santunan Anak Yatim yang digelar PGRI Jateng dan Universitas PGRI Semarang, Rabu 4 Maret 2026.
Bayaran mahal, lanjut Ustad Cholidi, bukanlah sebuah alasan baginya untuk menabrak nilai-nilai atau batasan yang ada dalam diri. Konsistensi dalam menjaga nilai dan batasan inilah yang membuat dirinya dianggap berintegritas dan mendapat penghormatan dalam dunia perfilman.
Di samping menjaga integritas, Ustad Cholidi juga mengatakan pentingnya menjaga kehalalan rezeki. Setidaknya ada lima hal yang mengharuskan umat muslim mencari jalan rezeki yang halal.

“Pertama, dengan menjaga rezeki yang halal kita menjaga akal. Akal kita akan sehat. Akal kita akan jernih. Bila ada masalah apapun penyelesaiannya jernih,” ungkap Ustad Cholidi.
Kedua, rezeki yang halal menjaga jiwa. Jiwa kita menjadi sehat. Jiwa kita akan tenang karena rezeki halal. Jiwa yang tenang juga akan berdampak pada khusyuknya kita dalam beribadah. Ketiga, rezeki yang halal menjaga keagamaan kita. Kita dekat dengan ajaran agama.
“Keempat, menjaga harta kita. Barang-barang kita lebih awet, lebih terjaga. Kelima, menjaga nasab. Anak-anak kita, keturunan kita, akan terlindungi dan terjaga oleh rezeki halal yang kita berikan,” tandas Ustad Cholidi.
Dalam kegiatan tersebut, PGRI Jawa Tengah dan UPGRIS juga membagikan santunan pada ratusan anak yatim dari panti asuhan di Semarang dan sekitarnya. Kegiatan pemberian santunan ini merupakan kegiatan tahunan PGRI Jawa Tengah setiap kali memperingati Nuzulul Qur’an di bulan ramadan.

Ketua PGRI Jawa Tengah yang juga Wakil Ketua Komite I DPD RI, Dr H Muhdi SH MHum, dalam sambutannya menyampaikan bahwa setiap kali memperingati Nuzulul Qur’an, kita selalu ingat ayat pertama yang turun. Ayat tersebut sangat relate dengan kehidupan para guru, karena dalam ayat tersebut terdapat perintah Allah secara langsung untuk “iqra” atau “membaca”.
“Iqra harus dipahami secara lebih luas, tidak hanya perintah untuk membaca ayat-ayat saja, tetapi juga perintah membaca alam semesta, sehingga kita tidak terjebak pada pemahaman-pemahaman yang sempit” urai Muhdi.
Muhdi juga menyinggung masalah bencana alam yang terjadi menyeluruh di Indonesia. Di Jawa Tengah sendiri bencana terjadi di berbagai wilayah mulai Brebes, Banjarnegara, Cilacap, Kudus, Purwodadi, Demak, dan berbagai daerah lainnya.
“Untuk banjir Sumatera, anggota PGRI Jawa Tengah telah menyumbang 1.9 miliar. Dan di seluruh Jawa Tengah, sebagian besar, telah kita kunjungi dan kirimkan bantuan,” urai Muhdi.

Ketua Panitia Nuzulul Qur’an, Prof Dr Nur Khoiri MPd, menyampaikan bahwa tema kegiatan peringatan Nuzulul Qur’an adalah Alquran Cahaya Penyejuk Jiwa. Dalam kegiatannya juga dilangsungkan pemberian santunan anak yatim dan santri sebanyak 700 orang.
“Dari 700 santunan tersebut, 233 santunan berasal dari Dosen dan Karyawan UPGRIS,” urai Prof Khoiri.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut, seluruh pengurus PGRI Jawa Tengah, pengurus PGRI Kota Semarang, dosen dan karyawan Universitas PGRI Semarang, dan sejumlah tamu undangan. (za)




