
REHAT sejenak di Rest Area Sragentina (Baca: Sragen), tentu tak akan melewatkan minuman hangat dan gorengannya. Di sini, aneka gorengan dengan segala rupa-rupanya tersedia. Bahkan minumam hangat pelengkapnya juga ada, mulai kopi hangat, teh hangat, jahe hangat, dan lain-lainnya.
Tapi ada satu yang menarik dari berbagai camilan yang bisa dinikmati, yakni ‘cabai rawat’. Istilah cabe rawat ini muncul ketika salah satu pembimbing, Bambang Sulanjari, melihat cabai rawit yang ukurannya ‘ora pantes’ untuk ceplusan.

“Sing cilik cabai rawit, sing iki ‘cabai rawat’. Karena perawatannya bagus jadi segini ukurannya,” urai Bambang Sulanjari.
Hal lain yang perlu dicatat, kata Dias Andris Susanto, salah satu pendamping yang lain, gorengan tahu-nya mantap. Kata ‘mantap’ ini tentu saja untuk menggantikan kata ‘delicious’ yang dikhawatirkan disangka kebarat-baratan.
“Enak. Boleh dicoba,” katanya sambil menyodorkan tahu goreng dalam piring yang juga dilengkapi ‘cabai rawat’.

Usai rehat sejenak perjalanan dilanjutkan kembali meninggalkan Jawa Tengah menuju wilayah Jawa Timur bagian barat. Roda bus kembali menapaki ruas-ruas tol yang relatif baik ketimbang ruas tol di wilayah Jawa Tengah.
Perjalanan diperkirakan masih butuh menempuh waktu lima jam untuk sampai di pemberhentian berikutnya, RM Utama Raya Situbondo. Di rumah makan besar itu, semua peserta dan pendamping dijadwalkan untuk rehat, mandi, salat, dan bersantap malam bersama. (za)




