
Banjarnegara, derapguru.com – Suasana khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Mumtaza Prapas Banjarnegara saat menyambut kedatangan tamu istimewa, seorang Muhafidz Quran dari Gaza Palestina, Syaikh Yasir Sholah Arafat pada hari Minggu 1 Maret 2026.
Kehadiran Syaikh Yasir bersama rombongan disambut hangat oleh para Syaikh Mumtaza dan seluruh santri yang membuat pagar betis dari gerbang Ponpes Mumtaza menuju Masjid Muhammad Al-Fatih.
Syaikh Arafat menyampaikan studium general di hadapan para santri dengan bahasa Arab tanpa penerjemah. Kekuatan pesan sang Syaikh terasa menembus batasan bahasa melalui emosi dan ketegasan intonasinya. Dengan kemampuan bahasa Arab yang dimiliki, para santri Mumtaza menyimak dengan penuh khidmat setiap poin yang disampaikan Syaikh.
Dalam paparannya, Syaikh Yasir menekankan kedudukan spiritual Al-Quds bukan sekadar wilayah geografis, melainkan jantung umat Islam. Beliau melukiskan keutamaan Masjidil Aqsha sebagai tanah yang diberkahi oleh Allah SWT. Namun, keindahan spiritual itu kini bersanding dengan nestapa; beliau memaparkan realitas pahit genosida dan penghancuran sistematis yang sedang dialami Gaza oleh agresor Israel.
Antusiasme santri memuncak pada sesi tanya jawab. Tiga santri terpilih melontarkan pertanyaan tajam yang dijawab dengan lugas oleh Syaikh Yasir.
Santri bernama Fadhlan Auladi misalnya, dengan bahasa Arab yang fasih, ia bertanya mengenai prediksi Syaikh Ahmad Yasin tentang siklus tahun 2027.
Syaikh Yasir menjelaskan adanya hitungan historis dan prediksi para ulama bahwa entitas penjajah jarang bertahan lebih dari 80 tahun. “Tahun 2027, yang menandai usia ke-80 Israel, diyakini sebagai titik balik krusial bagi eksistensi mereka,” ujar Syaikh Yasir.

Pertanyaan menarik lain diungkapkan santri bernama Aqila. Ia mempertanyakan tentang sikap negara-negara Arab terhadap konflik Palestina-Israel.
Syaikh Yasir menggunakan tamsil hadis yang menyentuh sekaligus menyimdir umat Islam.
“Umat Islam saat ini seperti buih di lautan. Saya menyayangkan kondisi umat yang besar secara jumlah namun kehilangan bobot kepemimpinan dan persatuan, sehingga sulit berdiri tegak dalam membela Palestina,” tambah Syaikh Yasir.
Pertanyaan terakhir dari santri bernama Azfa menyinggung tentang keterlibatan Indonesia dalam Broad of Peace bentukan Amerika.
Syaikh menyambut positif wacana pengiriman misi perdamaian TNI ke Gaza. Ia berharap kehadiran pasukan Indonesia dapat menjadi benteng fisik yang menjaga warga sipil Gaza dari serangan agresor Israel.
Rangkaian acara tidak berhenti pada diskusi intelektual. Kehangatan ukhuwah semakin terasa saat Syaikh Yasir Arafat bergabung bersama para santri dan pengasuh untuk berbuka puasa bersama. Syaikh Yasir juga berkesempatan mengimami salat Tarawih, di mana lantunan ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa untuk Palestina dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan, menutup malam dengan harapan besar akan kemerdekaan Al-Aqsha.
Pimpinan Ponpes Mumtaza KH Afit Juliet Nurcholis, Selasa 3 Maret 2026 mengungkapkan kehadiran Syaik Yasir sangat bermanfaat bagi pondok dan para santri Mumtaza
“Kehadiran Syaikh Yasir bukan sekadar membawa informasi, tapi membawa ruh perjuangan Gaza ke dalam relung hati para santri Al-Mumtaza,” ujar kyai lulusan Universitas Islam Internasional Sudan itu. (Heni P)




