
Pendidikan memiliki peran penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Dalam pembangunan nasional, pendidikan menjadi pondasi utama dalam membentuk generasi emas, yaitu mereka yang dapat membawa dampak positif dan berkontribusi secara signifikan terhadap kemajuan negara. Keunggulan generasi emas tidak hanya terletak pada kecerdasan intelektual, namun juga pada karakter kuat, keterampilan, dan kemampuan adaptasi mereka dalam menghadapi perubahan global yang terus berlangsung.
Mengakhiri tahun 2025 menuju tahun 2026 merupakan momentum tepat untuk melakukan refleksi apa yang telah dilakukan oleh dunia pendidikan kita. Terkait hal tersebut, derapguru.com telah mewawancarai dua nara sumber, Dr Miftahudin SPd, MSi Kabid GTK Dinas Pendidikan Kota Semarang, dan Yusep Kurniawan, MPd, Pengawas Sekolah pada Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas. Berikut rangkuman pendapatnya.
Dr Miftahudin mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan guru (pendidik) dan tenaga kependidikan (tendik) pada tahun 2025 Pemerintah Kota Semarang telah mengangkat sebanyak 55 orang guru dan 892 tendik Non ASN menjadi ASN P3K. Kemudian 640 guru, sisa dari 55 diangkat menjadi ASN P3K melalui jalur L5, yakni guru yang sudah mengikuti PPG calon guru, sehingga semua guru non ASN tuntas diangkat menjadi ASN P3K. “Jadi untuk Tendik P3K sejumlah 892 terperinci penuh waktu 203, dan paruh waktu 689. Sedangkan untuk guru P3K sejumlah 640 orang terdiri guru penuh waktu 279 dan paruh waktu 361”, ujar Dr Miftah menjelaskan.
Ditambahkan, dari jumlah yang kemarin diterima ada yang mengundurkan diri sejumlah 45 orang. Selain itu ada juga mapel yang tidak ada pelamarnya, kemudian untuk guru agama juga belum ada pengangkatan, karena belum ada PPG calon guru agama (R5). Selanjutnya, untuk prediksi guru yang pensiun tahun 2026 sebanyak 295, dan tahun 2027 sebanyak 285. Untuk mengganti guru yang pensiun tahun 2026 akan diisi dari guru P3K Paruh waktu, yang sudah dihitung sampai Desember 2026. “Khusus guru kelas untuk SD semua terpenuhi, tidak ada kekurangan”, jelas Dr Miftah. Dengan perubahan status tersebut diharapkan kesejahteraan dan profesionalitas guru juga meningkat, sehingga mutu pendidikan juga meningkat.
Pelatihan dan Peningkatan Profesi
Guna meningkatkan dan mengembangkan profesi dan kompetensi guru, Dinas Pendidikan menggelar berbagai pelatihan dengan anggaran APBD, baik kegiatan luring maupun daring, termasuk pelatihan guru melalui komunitas belajar (Kombel). “Alhamdulillah, tahun 2025 Kombel kota Semarang mendapat predikat terbaiki se Jawa Tengah. Ini menunjukkan Dinas Pendidikan Kota Semarang memiliki komitmen tinggi dalam peningkatan profesionalitas guru, menjadikan guru-guru inovatif, dan hebat”, ujar Dr Miftah.
Kombel yang diadakan semingu dua kali, yakni hari Senin dan Jumat ini berkolaborasi dengan Tanoto Fondation, dan diikuti oleh guru-guru dari semua jenjang, baik dari sekolah negeri maupun swasta. “bahkan guru dari luar jawa pun sering mengikutinya. Sehingga Kombel ini menjadi andalan untuk pengembangan profesi para guru”, jelas Miftah.
Diungkapkan juga oleh Dr Miftah, Dirjen GTK, Prof Nunuk pernah hadir sebagai Keynote speaker untuk menyemangati para guru melalui Kombel kota Semarang. Sekjen PB PGRI Dudung Abdul Khodir, dan Direktur Pendidikan Dasar, Dr Rahmadi juga pernah hadir dan memberikan motivasi guru-guru yang tergabung dalam kombel kota Semarang.
Untuk kegiatan Luring yang juga dibiayai dari APBD, pihaknya juga melatih guru dan kepala sekolah swasta. Ini sekaligus juga untuk mendukung program prioritas walikota, yang menempatkan pemerataan pendidikan menjadi misi pertama. “Ada sekitar 2000 Guru dan Kepala Sekolah SD dan SMP negeri dan swasta mengiki program pelatihan ini selama lima hari berturut-turut. Antara lain untuk penguatan literasi dan numerasi di sekolah, menerapkan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat, peningkatan karakter anak, dan penanganan anak berkebutuhan khusus. “Selain itu juga ada pelatihan guru dengan anggaran BOS dari masing-masing sekolah, untuk penguatan kompetensi guru”, jelas Miftah menambahkan.
Menuju Indonesia Emas 2045
Dr Miftahudin juga mengungkapkan adanya “Program guru bersamamu”, yakni satu guru mendampingi satu siswa anak tidak sekolah. Di kota Semarang ada 335 anak tidak sekolah dari berbagai jenjang. Dan setelah didata, yang punya motivasi belajar tinggal 37 anak. Dan ini sudah diupayakan masuk dapodik, dititipkan di PKBM dan SKB, dikawal sampai lulus dapat ijazah. Mereka juga dapat support dari BAZNAS dan Yatim Mandiri. Mereka mensupport untuk uang transport, ada yang dibelikan sepeda Listrik oleh walikota semarang, dan ada juga yang difasilitasi dengan BLT Gratis.
Selanjutnya diungkapkan juga target tahun 2026, yakni kompetensi guru di kota Semarang merata, sesuai dengan tuntutan tupoksi, dan distribusi guru terpenuhi. Pelatihan guru ditingkatkan lagi, dan sekolah harus aktifkan hari belajar guru seminggu sekali, semua sekolah harus ada hari belajar guru, yakni bertemunya guru-guru untuk saling asah, asih, asuh, berbagi pengalaman dengan kelebihan masing-masing.
“Walikota juga ingin memastikan setiap satuan Pendidikan tidak ada bullying, aktifkan TPPK, peningkatan status SRA, bukan sekedar mau tapi harus maju, pastikan tidak ada jam kosong, dan pastikan ada guru berjaga”, ujar Dr Miftah menjelaskan.
Berbicara tentang Indonesia Emas 2045, menurut Dr Miftahudin, kata kuncinya “keteladanan guru, orang tua dan Masyarakat untuk membentuk akarakter anak-anak menjadi lebih baik”. Dr Miftah juga mengungkapkan komitmennya untuk mensukseskan Program prioritas Mendikdasmen, yakni 7 kebiasaan anak Indonesia Hebat. “Untuk hal ini harus ada yang mengontrol dan sistem evaluasi yang baik agar guru bisa memantau implementasi anak di rumah, dan orang tua juga bisa memantau anak di sekolah, saling memantau”, ujar Dr Miftah.
Penguatan Karakter
Pendapat lain diungkapkan Yusep Kurniawan, S.Pd.SD., M.Pd., Pengawas Sekolah pada Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas. Menurut Yusep, Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Pasalnya, Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan berbagai kebijakan strategis yang selaras dengan visi Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden. Kebijakan tersebut mulai diimplementasikan hingga ke daerah, termasuk di Kabupaten Banyumas, melalui berbagai program dan praktik pembelajaran di satuan pendidikan.
Disebutkan beberapa kebijakan pemerintah yang patut diapresiasi karena relatif berhasil dilaksanakan oleh para guru dan satuan pendidikan pada tahun 2025; Pertama, penguatan karakter peserta didik mulai terinternalisasi dalam praktik pembelajaran. Nilai-nilai yang sejalan dengan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat diintegrasikan melalui pembiasaan harian, keteladanan guru, serta penguatan profil lulusan. Di Kabupaten Banyumas, banyak sekolah mulai menyadari bahwa pendidikan karakter bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian esensial dari proses pembelajaran; Kedua, transformasi pembelajaran menuju pembelajaran yang lebih bermakna menunjukkan perkembangan positif. Guru semakin terbiasa merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada ketuntasan materi, tetapi juga pada pemahaman mendalam (deep learning), penguatan nalar kritis, dan keterkaitan dengan konteks kehidupan peserta didik; Ketiga, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran mengalami peningkatan, meskipun belum merata. Sejumlah guru telah mampu menggunakan platform digital, media pembelajaran interaktif, serta sistem administrasi berbasis teknologi untuk mendukung proses belajar mengajar; Keempat, penyaluran dan pemanfaatan dana BOS serta Program Indonesia Pintar (PIP) relatif tepat sasaran. Program ini berkontribusi menjaga keberlangsungan layanan pendidikan dan membantu menekan angka putus sekolah, khususnya bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu.
Kesenjangan Kompetensi Digital
Di samping berbagai capaian tersebut, Yusep juga melihat masih adanya sejumlah kebijakan yang belum berjalan optimal. Pemerataan kualitas dan distribusi guru masih menjadi tantangan. Beban kerja guru, terutama yang berkaitan dengan administrasi, masih dirasakan cukup berat sehingga mengurangi ruang fokus guru pada pembelajaran.
Berikutnya, pengenalan pembelajaran berbasis teknologi lanjutan, seperti coding dan kecerdasan buatan, juga belum maksimal. Kendalanya meliputi keterbatasan sarana prasarana, kesiapan guru, serta kesenjangan kompetensi digital antar sekolah.
Yusep Kurniawan yang juga Sekretaris PGRI Kabupaten Banyumas ini juga menengarai, Transformasi sistem evaluasi dan asesmen, termasuk pemahaman terhadap Tes Kemampuan Akademik (TKA), masih memerlukan pendampingan intensif. Tanpa pemahaman yang utuh, asesmen berisiko dipersepsikan hanya sebagai pengganti ujian lama, bukan sebagai alat refleksi pembelajaran.
Selain itu, implementasi kebijakan secara merata di daerah masih terkendala perbedaan kapasitas sekolah, kondisi geografis, serta dukungan sumber daya manusia dan anggaran di tingkat satuan pendidikan.
Pelatihan Berkelanjutan
Memasuki tahun 2026, diperlukan langkah-langkah strategis untuk memperkuat mutu pendidikan secara berkelanjutan. Penguatan pendampingan dan pelatihan berkelanjutan bagi guru dan kepala sekolah menjadi kebutuhan utama, khususnya dalam pembelajaran mendalam, literasi digital, dan kepemimpinan pembelajaran. Upaya ini perlu disertai kebijakan yang realistis dan berpihak pada kondisi kerja guru di lapangan.
Selanjutnya, penyederhanaan beban administrasi guru juga perlu menjadi prioritas, agar guru dapat lebih fokus pada perencanaan, pelaksanaan, asesmen berkelanjutan, serta refleksi pembelajaran. Berikutnya, kata Yusep, peran kepala sekolah perlu terus diperkuat sebagai instructional leader, bukan semata administrator, sehingga mampu mendorong budaya belajar yang sehat dan kolaboratif di sekolah.
Kemudian, optimalisasi peran pengawas sekolah sebagai mitra profesional guru dan kepala sekolah juga penting, dengan penekanan pada pendampingan peningkatan mutu pembelajaran, bukan sekadar pengawasan administratif.
Selain itu, Yusep juga mengungkapkan, peningkatan kesejahteraan guru merupakan prasyarat penting bagi peningkatan kualitas kinerja. Dikatakan, harapan terhadap guru yang profesional, inovatif, adaptif terhadap teknologi, dan berkarakter kuat perlu diimbangi dengan kebijakan kesejahteraan yang adil dan berkelanjutan. Kesejahteraan guru baik dari aspek penghasilan, jaminan sosial, kepastian karier, maupun penghargaan profesional memiliki korelasi erat dengan motivasi, fokus, dan komitmen dalam menjalankan tugas. Guru yang sejahtera secara lahir dan batin akan lebih mampu mengembangkan diri dan menghadirkan pembelajaran berkualitas. Penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat juga perlu terus ditingkatkan untuk mendukung keberlanjutan program pendidikan dan menciptakan iklim kerja yang kondusif bagi profesionalisme pendidik.
Empat Kata Kunci
Dalam perspektif jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045, Yusep mengungkapkan adanya empat kata kunci yang perlu menjadi pegangan bersama dalam dunia pendidikan, yaitu kualitas, karakter, kolaborasi, dan konsistensi. Kualitas pembelajaran dan sumber daya manusia, karakter sebagai fondasi moral generasi bangsa, kolaborasi antar pemangku kepentingan pendidikan, serta konsistensi dalam menjalankan kebijakan secara berkelanjutan merupakan prasyarat utama keberhasilan pembangunan pendidikan. Tanpa keempatnya, kebijakan pendidikan berisiko menjadi program jangka pendek yang tidak berdampak jangka panjang.
Melalui Refleksi ini Yusep berharap dapat menjadi bahan evaluasi bersama sekaligus pijakan untuk memperbaiki dan memperkuat penyelenggaraan pendidikan khususnmya di Kabupaten Banyumas dan Indonesia secara umum, demi terwujudnya generasi unggul yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (pur)




