
SEMARANG, derapguru.com — Kesadaran akan pentingnya berserikat sudah tumbuh jauh-jauh hari sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Bahkan, kesadaran untuk membangun bangsa yang merdeka juga telah tumbuh dengan beberapa kali perubahan nama organisasi menjadi lebih nasionalis.
Sejarah perkumpulan guru tersebut disampaikan Ketua PGRI Jateng yang juga Wakil Ketua Komite I DPD RI, Dr H Muhdi SH MHum, saat memberikan materieqqq Penguatan Kapasitas Pengurus (KPK) PGRI Kota Semarang di Seminar Hall Menara UPGRIS Kampus Gajah Semarang, Selasa 6 Januari 2026.
“Guru ini generasi terpelajar. Kesadaran untuk berserikat dan berjuang bersama-sama telah tumbuh sejak zaman kolonial Belanda. Saat masih bernama Hindia Belanda, guru-guru berhimpun dalam satu organisasi bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB),” urai Muhdi.
Muhdi menambahkan, mendekati masa-masa kemerdekaan, pada tahun 1932, seiring menguatnya semangat kemerdekaan, namanya diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). PGI sangat sulit berkembang karena pada masa itu Jepang berkuasa, dan segala hal yang berbau pergerakan sangat diawasi mereka.
“Lalu pada tahun 1945. Tepat seratus hari setelah Indonesia merdeka, kesadaran para guru untuk membangun serikat kembali tumbuh dengan berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia. Yang merupakan organisasi hasil peleburan berbagai macam organisasi guru pada saat itu,” urai Muhdi.
Selain menjelaskan tentang sejarah berdirinya organisasi PGRI, Muhdi juga menguraikan satu per satu kiprah PGRI dalam memperjuangkan guru dan tenaga kependidikan. Beberapa perjuangan yang disebutkan di antaranya memperjuangkan UU Guru dan Dosen yang berimbas pada didapatkannya Tunjangan Profesi Guru (TPG).
“Ada juga perjuangan supaya guru honorer K2 dapat diangkat menjadi PNS, perjuangan usia pensiun guru yang semula 56 tahun menjadi 60 tahun, termasuk perjuangan organisasi untuk menaikkan status guru honorer menjadi ASN PPPK,” tandas Muhdi. (za)




