
SEMARANG, derapguru.com — Dunia yang semakin terbuka memberikan banyak ruang luas bagi para penyandang disabilitas. Dan gayung pun bersambut, para penyandang disabilitas satu per satu mulai menunjukkan kemampuan-kemampuannya.
Salah satunya adalah film berjudul “Langit Tetap Sama” yang diproduksi penyandang tunanetra, Basuki, yang tak lain adalah pimpinan dari Komunitas Sahabat Mata Semarang: sebuah yayasan yang menjadi rumah bersosialisasi para tunanetra. Karena dibuat penyandang tunanetra, film ini pun didesain untuk “ramah” (baca: bisa ditangkap) para penyandang tunanetra dan tunarungu.
Memberi apresiasi dan dukungan terhadap loncatan kreatifitas ini, Prodi Bimbingan dan Konseling (BK) FIP UPGRIS sengaja menghadiri langsung pemutaran perdana film. Pemutarannya sendiri digelar di Ruang Audio Visual Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Senin 6 April 2026.
“Sebagai bidang ilmu yang berfokus pada empati, konseling, psikologi, dan pendampingan sosial, keterlibatan Prodi BK UPGRIS merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap terwujudnya masyarakat dan pendidikan yang inklusif, khususnya bagi penyandang disabilitas,” urai Kaprodi BK UPGRIS, Dr Dini Rakhmawati MPd.
Dini menambahkan film “Langit Tetap Sama” sendiri mencetak sejarah membanggakan bagi perfilman lokal dan nasional. Karya sinema ini tidak sekadar fiksi, melainkan lahir dari rahim pengalaman nyata para tunanetra. Lebih istimewa lagi, film ini ditulis dan disutradarai langsung oleh seorang tunanetra.
“Secara naratif, film ini menyuguhkan realitas berlapis tentang kehidupan tunanetra yang jarang terekspos ke permukaan. Penonton diajak menyelami kisah perjuangan mencari pekerjaan yang kerap berujung pada penolakan, dinamika rapat panitia qurban yang penuh kekacauan dan tawa, hingga mimpi absurd tentang wawancara kerja,” tutur Dini yang datang didampingi dosen lain, Dr Venty MPd.
Dini menambahkan, salah satu momen paling emosional dalam film ini adalah potret kisah cinta yang tidak biasa. Kisah tentang dua orang tunanetra yang saling menyayangi, namun dihadapkan pada dilema besar ketika salah satunya memilih mundur, diliputi ketakutan bahwa anak mereka kelak tidak bisa melihat keindahan langit.
“Sebagai kampus yang mendidik para konselor, kedatangan kami dalam pemutaran film ini adalah untuk menegaskan posisi kami sebagai kampus inklusi. Kampus yang menyuarakan kesetaraan dan dukungan bagi saudara-saudara kami yang berkebutuhan khusus,” tandas Dini. (za)




