
SEMARANG, derapguru.com — Kemampuan bercerita secara memikat menjadi modal penting bagi seorang pemandu wisata. Dengan kemampuan bercerita, suasana wisata akan terasa lebih hidup dan memberikan pengalaman mengesankan bagi para wisatawan.
Kemampuan bercerita seperti ini, dalam dunia bahasa, sering disebut dengan istilah storytelling. Storytelling adalah seni bercerita atau mendongeng untuk menyampaikan suatu kisah yang bisa membuat audiens terlibat secara emosional.
Kemampuan seperti inilah yang diajarkan oleh Tim Dosen UPGRIS yang terdiri atas Dr Dias Andris Susanto SPd MPd, Ajeng Setyorini SS MPd, Nurul Fatimah SH MH, dan Andi Priyolistiyanto MKom saat menggelar kegiatan bertajuk “Pendampingan Pemandu Wisata dalam Mengintegrasikan Tourism Discourse, Storytelling, dan Istilah Pariwisata Berbahasa Inggris”, baru-baru ini.
Ketua Tim Dosen, Dias Andris Susanto, mengatakan kegiatan ini diikuti oleh pemandu wisata dari berbagai komunitas di Kota Semarang. Pelatihan ini menjadi upaya strategis dalam meningkatkan kualitas layanan pariwisata kota, khususnya dalam menyambut wisatawan mancanegara yang jumlahnya terus meningkat.
“Penguasaan narasi dan kemampuan membangun pengalaman wisata melalui cerita merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki pemandu wisata. Pemandu wisata adalah ‘wajah kota’. Kemampuan mereka dalam menyajikan informasi dengan bahasa Inggris yang tepat dan dikemas dengan narasi menarik akan menentukan bagaimana wisatawan memaknai Semarang,” ujar Dias.
Dias menambahkan, selain melatih kemampuan storytelling, dalam kesempatan tersebut timnya juga melatih para pemandu wisata untuk cakap memahami ‘tourism discourse‘. Kecakapan dalam memahami tourism discourse atau wacana pariwisata membuat pemandu wisata lebih terlihat profesional dan berkompeten dalam bidang pariwisata.
“Kompetensi pemandu wisata tidak hanya bertumpu pada kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga pada kecakapan memahami wacana pariwisata (tourism discourse) dan menyampaikan cerita yang hidup serta menarik. Pemandu wisata di era global memiliki peran strategis sebagai perantara budaya yang memperkenalkan sejarah, nilai lokal, dan identitas kota kepada wisatawan asing,” tambah Dias.
Lebih lanjut Dias menuturkan, pelatihan dilaksanakan dalam tiga sesi inti. Sesi pertama, Pengenalan Tourism Discourse, membahas struktur wacana, tipe teks pariwisata, register profesional, hingga strategi memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan internasional.
Sesi kedua, Storytelling untuk Pemandu Wisata, memberikan pemahaman tentang teknik membangun alur cerita, penggunaan intonasi, bahasa tubuh, dan gaya penyampaian yang persuasif serta menarik.
“Untuk sesi ketiga, Penguatan Istilah Pariwisata Berbahasa Inggris, membahas kosakata teknis seperti heritage site, cultural interpretation, guided tour, dan berbagai ungkapan umum dalam interaksi wisata,” tandasnya. (za)




