
Banjarnegara, derapguru.com- Setelah tahun lalu sukses menerbitkan buku kompilasi karya berjudul Banjarnegara Surga Cerita, melaui program Dana Alokasi Khusus Non Fisik Perpusnas, Disarpus Kabupaten Banjarnegara akan segera menyusun kembali dan menerbitkan karya serupa dengan tema Banjarnegara Tanah Legenda. Kalau karya terdahulu kebanyakan berisi karangan non fiksi, maka kali ini genre buku yang akan diterbitkan adalah cerpen fiksi.
Guna melaksanakan hal itu, Selasa, 7 April 2026, Disarpus menyelenggarakan kegiatan Bimtek Penulisan Berbasis Konten Budaya Lokal tahap 1 di Aula Niscala Perpusda Banjarnegara yang diikuti 50 peserta. Para peserta diseleksi dengan mengirimkan draft cerpen terlebih dahulu.
Kabid Perpustakaan Disarpus Banjarnegara Masfufatun Juni mengungkapkan meskipun ada penurunan jumlah peserta karena minimnya anggaran, namun diharapkan karya buku tahun ini lebih bermutu.
Kepala Disarpus Banjarnegara Arief Rahman juga berharap, kemampuan menulis peserta Bimtek nantinya selain menghasilkan karya buku, siapa tahu ke depan menghasilkan uang. Ia juga menyitir pendapat Al Gahzali bahwa jika bukan anak raja maka menulislah, karena dengan menulis akan dapat diikuti pesan dalam tulisan.
“Ini momentum untuk membangun semangat literasi berbasis lokal, menguatkan identitas lokal,” ujar Arief.
Tiga orang bertindak sebagai narasumber kegiatan itu, yaitu: Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara Heni Purwono, guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Karangkobar Sutini dan pegiat literasi dari Rumah Baca Purnama Indra Hari Purnama.

Dalam materinya, Heni mengungkapkan bahwa kisah narasi legenda yang ada di Banjarnegara akan mampu mengangkat nilai pariwisata di Banjarnegara.
“Beberapa objek wisata seperti Tangkuban Perahu, Candi Prambanan menjadi masyur dan menjadikan orang penasaran untuk melihat karena ada unsur legendanya. Nah itulah yang kami harapkan, para penulis ini nantinya menghasilkan kisah legenda yang dapat mendorong pariwisata di Banjarnegara,” harap Heni.
Adapun Sutini mengungkapkan bahwa dalam membuat cerita legenda diperlukan kreatifitas agar menghasilkan kisah fantasi yang pralogis dan bahkan bombastis.
“Legenda seperti ini masih terbatas diualas dan dibuat bukunya di Banjarnegara. Buktinya ketika lomba bertutur dalam FLS3N, kebanyakan peserta membawakan cerita dari luar Banjarnegara,” ujar Sutini.
Sementara itu Indra Hari Purnama mengungkapkan bahwa kegiatan menulis akan menjadikan nama kita abadi dalam sejarah.
“Ketika kita menuliskan kebaikan, maka sejatinya kita sedang menuliskan amal jariyah kita,” tandas Indra.
Para peserta akan menjalani Bimtek sebanyak tiga tahap, yaitu berikutnya pada 29 April dan 7 Mei, dan nantinya karya mereka akan diterbitkan oleh Perpusnas Press. (H Purwono)




