
SELAT Bali tak berombak. Waktu-waktu ini mestinya musim angin baratan, musim ombak besar-besarnya. Tapi entah mengapa pada penyeberangan kali ini, ombak terasa tenang. Angin pun–yang beberapa hari terakhir bergerak di atas 25–tiba-tiba terasa jinak. Hanya sedikit lebih kencang beberapa knot dari kecepatan maksimal kapal ferry.
Sebuah kapal merapat. Melempar sauh. Lalu perlahan pintu lambung kapal mulai terbuka. Beberapa orang ‘mualim’ mengatur barisan bus dan kendaraan yang mengantre di jalur pemberangkatan. Dengan pelan–menyesuaikan ritme ombak–kendaraan satu per satu mulai naik ke lambung kapal.

Setelah bus berada di lambung kapal, para penumpang diminta naik ke anjungan. Di anjungan ada banyak tempat duduk nyaman selama proses penyeberangan. Tapi melewatkan Selat Bali hanya dengan duduk diam, tentu bukanlah pilihan yang baik.
Rerata para penumpang memilih berdiri di geladak atau buritan kapal. Di geladak dan buritan, dengan suasana malam yang berangin, lautan terasa lebih memikat. Lalu terdengarlah terompet panjang: pertanda kapal mulai pemberangkatan.
Jarak Ketapang-Gilimanuk hanya sekitar 5,1 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 45-60 menit menggunakan kapal ferry. Perjalanan ini terasa lama karena kapal harus bergerak menyesuaikan arus. Di luar itu, di jalur penyeberangan Selat Bali ada masalah paling besar, yakni harus menghindari palung besar yang memicu arus kuat dan bis membahayakan kapal yang mendekat.
Bagi Puteri Rahayu Ningrum, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, ini adalah pengalaman pertamanya naik kapal besar. Terkait dengan kapal, dia hanya memiliki pengalaman naik perahu, yang tentu saja penuh dengan gelombang.
“Pengalaman baru. Belum pernah naik kapal besar. Ke Bali juga belum pernah. Jadi mau cari suasana baru,” ungkapnya
Puteri mengatakan, ada banyak hal yang ingin dilihat dari Bali. Meski belum pernah melihat langsung, berseliwerannya video tentang Bali di tiktok sudah cukup membuatnya ingin melihat langsung.
“Lihat pantai yang indah. Dan Tari Kecak,” tandasnya.

Berbeda dengan Ramadani Noviana Salsa, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, yang memang memandang Bali biasa saja. Maklum, cewek kelahiran Rembang ini, sudah terbiasa dengan suasana pantai dan segala pernak-perniknya.
“Mungkin karena di dekat rumah ada banyak pantai jadi ga begitu berharap banget dengan Bali. Sudah biasa dengan suasana pantai,” ungkap Salsa.
Kapal mengeram sesaat, mengurangi kecepatan, dan mulai merapat ke bantalan karet tebal di Pelabuhan Gilimanuk. Ketika pintu lambung kapal mulai terbuka, para Mualim kembali sibuk mengatur keluarnya kendaraan muatan.
Saat ini waktu telah menunjukkan pukul 02.31 WITA: meloncat satu jam lebih cepat dari hitungan WIB. Dan Pulau Bali masih dalam kesederhanaannya. Masih terlelap ketika kami mulai merayap ke pusat kota. (za)




