
SEMARANG, derapguru.com – Masalah remaja yang kian kompleks menuntut penanganan yang tepat dan dekat dengan dunia mereka. Penanganan yang tepat dan dekat akan membuat anak merasa nyaman sehingga mereka bisa lebih terbuka dengan masalah yang dihadapi.
Memahami hal tersebut, Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) mengambil langkah nyata dengan menggelar “Pelatihan Intensif bagi Anggota Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di SMA Negeri 13 Semarang” yang digelar di Laboratorium BK 1fl Menara GU UPGRIS Kampus Cipto Semarang, Kamis 12 Februari 2026.
Kegiatan yang berlangsung khidmat dan interaktif tersebut bertujuan untuk membekali siswa dengan keterampilan dasar konseling, sehingga mereka mampu menjadi “pendengar pertama” bagi rekan-rekan sejawatnya di lingkungan sekolah.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi BK UPGRIS, Dr Dini Rakhmawati MPd. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa konselor sebaya adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental siswa.
“Teman sebaya seringkali menjadi tempat pertama bagi siswa untuk mencurahkan isi hati. Melalui pelatihan ini, kita ingin memastikan bahwa curahan hati tersebut dikelola oleh individu yang memiliki dasar kemampuan mendengarkan dan empati yang benar,” ujarnya.
Koordinator BK SMA N 13 Semarang, Wulan Cahyani Fitri SPd, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyambut baik inisiatif ini. Beliau menyatakan bahwa kehadiran tim dari UPGRIS sangat membantu program sekolah dalam mengoptimalkan peran PIK-R yang selama ini menjadi wadah pengembangan diri siswa.

Pelatihan dirancang secara komprehensif oleh Dr Heri Saptadi Ismanto MPdKons yang merupakan pakar di bidang bimbingan konseling. Materi yang disampaikan terbagi ke dalam dua sesi utama: Pertama, Sesi Teori Singkat. Sesi ini berfokus pada pemahaman mengenai etika kerahasiaan, teknik komunikasi asertif, dan cara mengidentifikasi masalah psikologis awal pada remaja.
Kedua, Sesi Praktik (Roleplay). Pada sesi ini siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi langsung mempraktikkan simulasi konseling. Para siswa PIK-R berperan sebagai konselor dan konseli, di mana mereka dilatih untuk menunjukkan gerak tubuh (gesture) yang mendukung dan memberikan respons empatik tanpa menghakimi.

Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi dan praktik berlangsung di Laboratorium BK lantai 1 Gedung Utama UPGRIS. Banyak siswa yang menyadari bahwa menjadi konselor sebaya bukan berarti memberi solusi secara instan, melainkan menjadi jembatan dan pendengar yang baik agar rekan mereka merasa didukung.
Diharapkan, pascapelatihan ini, anggota PIK-R SMA N 13 Semarang dapat lebih aktif bergerak di lingkungan sekolah, membantu menciptakan atmosfer pendidikan yang sehat secara mental, serta mampu melakukan rujukan ke guru BK jika ditemukan permasalahan yang memerlukan penanganan profesional. (za)




