
Semarang, derapguru.com – Anggota MPR RI Dr. H. Muhdi, SH., M.Hum. menegaskan pentingnya peran Pancasila sebagai dasar negara dalam membentuk karakter dan moralitas peserta didik. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan sosialisasi yang berlangsung pada Senin, 15 Desember 2025, di Aula SMA Negeri 2 Semarang, Jawa Tengah, di hadapan Kepala Sekolah, para guru, serta pengurus OSIS.
Dalam pemaparannya, Dr. Muhdi menyampaikan bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai ideologi negara, tetapi juga sebagai pedoman nilai yang relevan untuk diterapkan dalam dunia pendidikan. Lima sila Pancasila mengandung nilai-nilai luhur seperti toleransi, gotong royong, keadilan, dan rasa kemanusiaan yang sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, penerapan pendidikan karakter berbasis Pancasila di sekolah terbukti mampu meningkatkan perilaku positif siswa, seperti sikap saling menghargai, kerja sama, dan rasa hormat.

Ia menekankan bahwa integrasi nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum merupakan langkah strategis yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan kepribadian siswa. Penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa sekolah yang menerapkan kurikulum berbasis Pancasila mengalami peningkatan signifikan dalam nilai-nilai karakter peserta didik.
Salah satu bentuk implementasi konkret adalah memasukkan materi sejarah Pancasila dan perannya dalam pembangunan bangsa ke dalam mata pelajaran sejarah. Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya memahami fakta historis, tetapi juga makna Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pembelajaran berbasis proyek, seperti proyek lingkungan hidup, dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap alam. Penelitian Badan Litbang Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam proyek lingkungan memiliki sikap yang lebih positif terhadap isu keberlanjutan.
Lebih lanjut, nilai-nilai Pancasila juga dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran lain seperti seni dan olahraga. Pendidikan seni mendorong siswa untuk menghargai budaya lokal dan keberagaman, sementara olahraga menanamkan nilai sportivitas, kejujuran, dan kerja sama. Dengan demikian, pendidikan Pancasila dapat diterapkan secara menyeluruh dalam proses pembelajaran.

Dr. Muhdi juga menegaskan peran sentral guru sebagai agen utama penanaman nilai Pancasila. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap dan perilaku. Survei Asosiasi Guru Indonesia mencatat bahwa 85 persen guru meyakini pendidikan karakter berbasis Pancasila sangat penting dalam membentuk generasi berkualitas. Oleh karena itu, pelatihan dan pengembangan profesional guru perlu terus diperkuat agar mampu mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila secara efektif dalam pembelajaran.
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Pendidikan karakter berbasis Pancasila tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga harus diperkuat di rumah dan masyarakat, sehingga tercipta ekosistem pendidikan yang mendukung pembentukan generasi muda yang berkarakter, berintegritas, dan berjiwa kebangsaan. (amr/yud)




