
SEMARANG, derapguru.com – sebuah konser musik menjadi sebuah komoditas ekonomi, seorang kritikus sosial asal Prancis, Guy Debord, menyentil gaya hidup tersebut dengan kalimat sederhana: “Saat musik berubah menjadi tontonan yang mahal, apakah manusia masih datang untuk mengalami musik, atau sekadar membeli pengalaman menjadi bagian dari sebuah tontonan?”
Kenyataannya, meski mendapatkan kritik-kritik tajam, gempita konser musik di gedung-gedung pencakar langit, dengan panggung superfantastik, tetap saja hidup. Mereka menjalar mengikuti perubahan pola konsumsi manusia yang kini bermuara pada pentingnya prestige: “yang mahal yang akan diburu”.


Tapi sebagaimana Teori Pendulum, semua yang ada di dunia ini akan mencari titik kesetimbangannya. Saat tatanan dunia berguncang, dunia kosmopolit dihantam badai resesi, diguncang malaise, konser-konser musik megah di gedung-gedung pencakar langit satu per satu kehilangan daya.
Tapi di balik keruntuhan tatanan dunia kosmopolit, justru panggung-panggung musik kecil banyak bertumbuhan: di area public space, di sudut-sudut kota, di ruang-ruang coffeeshop. Menjadi kutub perlawanan gaya urban yang kini juga semakin happening dalam gaya hidup generasi muda.


Konsep untuk terlibat sebagai bagian penyeimbang dari musik kosmopolit inilah yang tampaknya diusung melalui agenda “Banjaran Puisi dan Kidung Senja” Session II yang merupakan bagian dari Narawita Fest 2026, di Pojok Icon UPGRIS Kampus Gajah, Rabu 28 Oktober 2026. Mengusung konsep “Jam Session”, panggung musik mini ini digelar dengan konsep unik: semua boleh main, semua boleh tampil, dan semua boleh unjuk gigi.
Maka jadilah mini konser ini menggelitik banyak orang untuk terlibat. Semua kalangan, mulai dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, anak-anak nongkrong, sampai orang-orang lewat, semua pada ambil bagian untuk bermusik. Segala lagu, segala aliran, segala irama, bermunculan untuk menjumpai para penggemarnya masing-masing.


Ketua Narawita Fest 2026, Dr Theresia Cicik Sophia Budiman MPd, menyampaikan bahwa sebagaimana telah dijanjikan sebelumnya, cara pendekatan yang berbeda dalam berseni akan diusung dalam gelaran Narawita Fest. Hiburan musik yang biasanya penuh dengan karaoke, sudah saatnya kami ubah menjadi musik live yang ringan tapi asik.
“Dengan pendekatan yang berbeda, event-event Narawita Fest yang monoton dan lebih banyak mengusung sisi indoor sedang kami seimbangkan dengan konsep outdoor stage. Dan tentu saja jadinya lebih natural dan menarik,” ungkap Cicik.


Dekan FPBS, Siti Musarokah MPd, di sela-sela kegiatan memantau acara, memberikan apresiasi tersendiri pada makin apiknya kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam mengusung acara. Baik mahasiswa maupun dosen sama-sama saling menyiapkan, saling mengisi, dan saling memberikan dukungan.
“Meski kami belum memiliki program studi seni, tapi kami melalui Narawita Fest ini akan mulai menghidupkan sisi ‘seni’ dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni ini,” ungkap Siti Musarokah. (za)




