
SEMARANG, derapguru.com – Budaya memuliakan murid menjadi salah satu budaya penting yang dapat mendukung pengembangan sekolah ramah anak. Budaya memuliakan murid juga bisa digunakan untuk membangun ekosistem sekolah yang lebih nyaman dengan meletakkan martabat murid sebagai inti ekosistem.
Konsep inilah yang sedang digerakkan Tim Dosen UPGRIS yang terdiri atas Dr Dyah Nugrahani MHum, Prof Dr Listyaning Sumardiyani MHum, Prof Dr Senowarsito MPd, Duwi Nuvitalia SPd MPd, Dr Wawan Priyanto MPd, dan Dr Ernawati Saptaningrum MPd.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, belum lama ini, mereka menggelar kegiatan bertajuk “Pendampingan Implementasi Budaya Memuliakan Murid sebagai Penguatan Sekolah Ramah Anak di SMP Negeri 29 Semarang”.

Ketua Tim Dosen, Dr Dyah Nugrahani MHum, mengatakan pentingnya menjadikan penghormatan terhadap murid sebagai praktik nyata dalam kehidupan sekolah. Menurutnya, predikat Sekolah Ramah Anak perlu diwujudkan melalui interaksi sehari-hari yang menghargai hak dan martabat peserta didik.
“Budaya memuliakan murid tidak cukup berhenti pada pemenuhan indikator administratif. Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam komunikasi, proses pembelajaran, dan cara guru memperlakukan setiap peserta didik,” tegas Dyah.
Dyah menambahkan, pendampingan ini mereka menggunakan pendekatan Participatory Action Learning for Student Dignity Model (PALSDM). Pendekatan ini menekankan pada empat aspek utama, yaitu student dignity (martabat murid), student voice (aspirasi murid), student agency (kemampuan murid mengambil inisiatif), dan sense of belonging (rasa memiliki terhadap komunitas sekolah).
“Keempat aspek tersebut mendorong murid menjadi subjek aktif dalam pembelajaran. Peserta didik diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, serta berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan, dengan tetap memperhatikan aturan dan tanggung jawab,” ungkapnya.
Lebih lanjut Dyah menambahkan budaya memuliakan murid juga berkaitan dengan penerapan disiplin positif. Guru tetap dapat bersikap tegas, tetapi penegakan aturan harus dilakukan tanpa penghinaan maupun kekerasan. Pendekatan dialog dan pemulihan hubungan menjadi bagian penting dalam menyelesaikan konflik di lingkungan sekolah.
“Kami melaksanakan pendampingan melalui identifikasi kebutuhan, lokakarya pencegahan dan penanganan kekerasan, penerapan pembelajaran yang memuliakan murid, monitoring, refleksi, serta evaluasi,” ungkapnya. (za)




