
SEMARANG, derapguru.com — “Puisi telah mati!” Begitu Edmund Wilson dalam bukunya berjudul “The Triple Thinkers“. Bukan saat-saat ini Wilson berkata demikian. Tapi sejak 88 tahun lalu, sejak tahun 1938, ketika dia mengeluarkan kalimat esensial: “Is Verse a Dying Technique?”
Wilson sebenarnya tidak sedang meramalkan kematian puisi secara harfiah. Dia hanya sedang menjelaskan bahwa puisi telah kehilangan monopoli besarnya atas dunia sastra. Perkembangan teknologi, peralihan cara manusia bertutur, dan beralihnya minat manusia terhadap tulisan yang lebih terbuka, membuat puisi jadi sekarat.


Dan puisi lebih sekarat lagi ketika berita-berita media massa telah berisi metafora. Dan pidato-pidato kepala negara penuh majas dan perlu diterjemahkan secara semiotika.
Tapi ruang performance dalam Narawita Fest yang digelar FPBS UPGRIS mencoba melawan “medan kematian” puisi. Dalam mimbar bebas pembacaan puisi bertajuk “Banjaran Puisi & Kidung Senja”, yang digelar di depan Tagline The Meaning University UPGRIS Kampus Gajah Semarang, mereka mencoba menyusun kembali artefak-artefak puisi untuk dihidupkan lagi.


Ya. Baik dosen, mahasiswa, masyarakat umum. Mereka saling bertukar puisi. Saling mengapresiasi, berdialektika, lewat tulisan WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, atau penyair-penyair muda yang dikenal maupun yang tak dikenal namanya.
Tim Kreatif Acara, Dr Bambang Sulanjari MA, mengatakan bahwa kegiatan ini digelar untuk memberikan ruang ekspresi bagi semua orang. Tak terbatas hanya untuk sivitas akademika FPBS saja. Dosen dan mahasiswa dari beberapa jurusan lain, maupun masyarakat umum juga diperbolehkan bergabung dalam ruang performance ini.


“Ini adalah gelaran untuk menggenapi simbol kami sebagai fakultas yang mempelajari bahasa, sastra, dan seni. Semoga gelaran mimbar terbuka ini bisa terus berlanjut ke depan,” urai Bambang Sulanjari.
Dekan FPBS, Siti Musarokah MHum, didampingi Ketua Panitia Narawita Fest, Dr Cicik Sophia Budiman MPd, mengatakan bahwa kegiatan “Banjaran Puisi & Kidung Senja” merupakan bagian dari agenda Narawita Fest tahun 2026.
“Kami mencoba menggunakan pendekatan yang berbeda pada Narawita Fest tahun ini agar kegiatan ini berjalan lebih menarik, impresif, dan memiliki deep impact terhadap citra kami sebagai fakultas yang berbasis bahasa dan seni,” tandasnya. (za)




