
SESUAI jadwal yang ditetapkan Kemendikdasmen, kegiatan anak-anak kelas XII SMK/MAK/SMA saat ini, salah satunya adalah mempersiapkan diri menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Seberapa penting TKA ini bagi dunia Pendidikan? Apakah hasil TKA merupakan gambaran riil mutu Pendidikan kita? Mengapa nilai TKA tahun lalu secara nasional umumnya sangat rendah jika dibandingkan dengan nilai rapor anak-anak?
Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan diatas, derapguru.com bertanya kepada ahli Pendidikan, Prof. Dr Rustono MHum, Guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNNES), yang juga Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.
Prof. Dr Rustono MHum, menyatakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah kegiatan yang penting sekali untuk mengukur kemajuan Pendidikan. TKA merupakan instrument evaluasi yang obyektif berstandar nasional, transparan untuk memetakan mutu belajar murid, tanpa memberikan tekanan kelulusan. TKA juga berfungsi mengukur standardisasi dan obyektivitas nasional, validasi nilai raport murid, pemetakan mutu Pendidikan kesetaraan akses, dan seleksi, serta evaluasi diri tanpa beban.

Dijelaskan, TKA merupakan instrument pemetaan mutu Pendidikan nasional, tetapi tidak menggambarkan mutu Pendidikan anak secara utuh karena nilainya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan teknis. Faktor kesenjangan infrastruktur (keterbatasan perangkat komputer, dll), kesiapan jenis soal (terbiasa hapalan mengalami kesulitan), jika berhadapan dengan soal penalaran dan literasi numerasi, dan TKA bukan satu-satunya ukuran menjadi penyebab tidak tercapanya mutu Pendidikan secara utuh.
Penyebab nilai TKA sangat rendah dibandingkan dengan nilai rapor adalah karena perbedaan fungsi evaluasi serta adanya inflasi nilai di sekolah. Inflasi nilai rapor terjadi karena bersifat subyektif dan dipengaruhi komponen administrative. Perbedaan tingkat kognitif (HOTS vs LOTS/MOTS) akibat TKA mengukur high order thingking skills (HOTS), sedangkan pembelajaran di kelas masih berfokus pada hapalan, dan pola presedural dasar. Penggunaan gawai media sosial (tik tok, Instagram) dan game yang berlebihan telah melemahkan daya kritis murid-murid.
“Penggunaan gawai media sosial (tik tok, Instagram) dan game yang berlebihan telah melemahkan daya kritis murid-murid”, ujar Prof Rustono, menegaskan.
Selanjutnya dijelaskan, bahwa TKA juga berfungsi sebagai falidator apakah tingginya nilai rapor sesuai dengan penguasaan konsep murid. Perbedaan kualitas fasilitas, sarana prasarana, serta kompetensi guru antarwilayah, jenis sekolah, serta latar belakang sosial ekonomi murid mempengaruhi kesiapan murid menghadapi ujian nasional.
Terkait dengan hal tersebut, maka yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu Pendidikan, menurut Prof Rustono adalah mengembangkan kompetensi dan profesionalisme guru (guru hendaknya mereka yang berada pada posisi sepuluh besar di tingkatannya) melanjutkan Pendidikan, aktif dalam komunitas belajar, mengikuti pelatihan dan diklat, melakukan penelitian Tindakan kelas, berinovasi dalam pembelajaran, menerapkan pembelajaran mendalam, memanfaatkan teknologi digital, menggunakan pendekatan data, menguatkan karakter dan motivasi, membangun kolaborasi dengan orang tua murid, serta melakukan kerja sama tim di sekolah.
Mapel Wajib dan Mapel Pilihan
Pendapat lain tentang materi TKA diungkapkan Ardan Sirodjuddin, SPd MPd, Kepala SMKN Jawa Tengah di Semarang. Dijelaskan, Tes Kemampuan Akademik (TKA), untuk siswa kelas XII jenjang SMK/MAK, materi ujinya terdiri atas 3 mapel wajib dan 2 mapel pilihan dengan ketentuan khusus: Mata Pelajaran Wajib terdiri Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Untuk Mata Pelajaran Pilihannya, yakni Pilihan Pertama Wajib memilih Produk/Projek Kreatif dan Kewirausahaan (PKK), dan Pilihan Kedua Memilih 1 (satu) mata pelajaran pilihan tingkat lanjut/umum lainnya.
Adapun daftar Mata Pelajaran Pilihan yang Tersedia adalah Matematika Lanjutan, Bahasa Indonesia Lanjutan, Bahasa Inggris Lanjutan, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Sejarah, Antropologi, PPKn / Pendidikan Pancasila, Bahasa Arab, Bahasa Jerman, Bahasa Prancis, Bahasa Jepang, Bahasa Korea, Bahasa Mandarin, serta Produk/Projek Kreatif dan Kewirausahaan (khusus SMK).
Terbiasa Dengan Pola Belajar Hapalan
Terkait rendahnya nilai rata-rata TKA tahun lalu, Ardan Sirrodjuddin mengungkapkan, pencapaian nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang belum optimal menjadi tantangan bagi peserta didik dan dunia pendidikan. Hal ini disebabkan TKA tidak hanya mengukur kemampuan menghafal, tetapi juga penguasaan konsep inti, penalaran, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills atau HOTS).

“Banyak siswa masih terbiasa dengan pola belajar hafalan sehingga mengalami kesulitan ketika menghadapi soal analisis, wacana panjang, grafik, dan tabel. Selain itu, kurangnya pemahaman terhadap variasi format soal, keterbatasan manajemen waktu, serta tekanan psikologis turut memengaruhi hasil yang diperoleh”, jelas Ardan.
Menurut Ardan, kondisi ini perlu disikapi melalui pembelajaran yang lebih menekankan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. Guru perlu memberikan latihan soal secara bertahap dan berkelanjutan, sedangkan siswa harus membangun kebiasaan belajar yang konsisten. Dengan persiapan yang tepat, TKA diharapkan tidak menjadi beban, tetapi menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan akademik dan kualitas pembelajaran.
Terkait hal tersebut, kata Ardan, solusi untuk meningkatkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMKN Jateng tahun ini meliputi penyusunan modul penyelesaian soal TKA oleh guru sebagai bahan belajar dan latihan bagi siswa. Selain itu, sekolah menambah jam bimbingan pada hari Sabtu dan Minggu agar siswa memiliki lebih banyak waktu untuk memperdalam materi, berlatih mengerjakan soal, serta meningkatkan kemampuan penalaran dan manajemen waktu.
“Tidak kalah penting, penguatan ibadah juga dilakukan untuk membangun ketenangan batin, menjaga kepercayaan diri, dan mengurangi kecemasan siswa dalam menghadapi ujian. Melalui perpaduan persiapan akademik, pendampingan intensif, dan penguatan spiritual, diharapkan siswa SMKN Jateng lebih siap menghadapi TKA dan memperoleh hasil yang optimal”, ujar Ardan mengungkapkan strategi yang dilakukannya menghadapi TKA tahun 2026.
Pemetaan Kemampuan
Sunardi SPdI, MSi, MPd, Kepala SMK Bhakti Husada PGRI Blora juga mengungkapkan Strategi yang dilakukan menghadapi TKA jenjang SMK di sekolah yang dipimpinnya, yakni melalui kerja sama seluruh warga sekolah dengan fokus pada pemetaan kemampuan, penguatan pembelajaran, latihan yang bermakna, simulasi, pendampingan, dan evaluasi. Sunardi menegaskan, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari hasil akhir, tetapi juga dari kualitas proses, peningkatan kompetensi, integritas, dan kesiapan peserta didik.

Hal lain yang juga dilakukan Sunardi adalah melakukan Identifikasi Pengalaman dan Kesulitan dalam pelaksanaan TKA tahun sebelumnya, melakukan Analisis Akar Masalah, serta Menyusun Rencana Tindak Lanjut, agar TKA tahun ini dapat dilakukan lebih baik dan memperoleh hasil optimal.
“Gladi Bersih TKA di sekolah kami juga sudah terlaksana dengan baik, Alhamdulilan berjalan lancar sesuai jadwal tanggal 5 – 8 Oktober 2026”, ujar Sunardi menambahkan. (pur)




