
Semarang, derapguru.com– Penguasaan bahasa Jawa di kalangan anak-anak dinilai kian memprihatinkan. Padahal, bahasa daerah memegang peran krusial, bukan sekedar alat komunikasi melainkan juga sebagai fondasi pembentuk karakter dan identitas budaya sejak usia dini.
Hal tersebut diungkapkan oleh Manggala Budaya Permadani Kota Semarang sekaligus Juri Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), Mintardi.

Berdasarkan pengamatan dan pengalamannya sebagai Juri FTBI jenjang Sekolah Dasar (SD), Mintardi mengaku menemukan setidaknya tiga masalah utama yang kerap dihadapi anak-anak, yakni Pocapan (Pengucapan) yang Kaku: Anak-anak, bahkan sebagian guru pembimbing cenderung mengucapkan bahasa Jawa dengan intonasi bahasa Indonesia. Akibatnya, pelafalan terdengar kaku dan kehilangan keluwesannya.
Kedua, Miskin Kosakata: Banyak anak yang tidak tahu padanan kata, sehingga terpaksa “men- jawa-kan” bahasa Indonesia. “Contohnya kata mulai dipaksa menjadi milai, padahal bahasa Jawanya adalah wiwit,” ujar Mintardi.
Ketiga, Tidak paham Unggah-Ungguh:
Anak-anak masih kesulitan menempatkan tingkatan bahasa (Ngoko, Krama, dan Krama Inggil). Konsep dasar menghormati orang lain lewat bahasa belum dipahami dengan benar. “Contoh mudahnya: Bapak sare, kula tilem. Bukan malah terbalik,” tambahnya.
Mintardi menegaskan bahwa kemampuan berbahasa tidak bisa instan, melainkan harus lewat pembiasaan sehari-hari. Oleh karena itu, para guru pembimbing dituntut untuk menguasai bahasa Jawa dengan baik terlebih dahulu agar mampu mengarahkan siswa dengan benar.
Geliat Pelestarian di Tembalang
Di tengah tantangan tersebut, upaya pelestarian bahasa jawa terus digenjot. Salah satunya melalui FTBI Tingkat Kecamatan Tembalang 2026 yang digelar di SDN Sendangmulyo 04 Semarang pada Rabu (16/9/2026).
Ketua Panitia FTBI Kecamatan Tembalang, Fauzi, menyebutkan ajang ini diikuti oleh 245 peserta dari 35 SD negeri dan swasta di wilayah Kecamatan Tembalang. Kategori yang dilombakan pun cukup variatif, mulai dari menulis cerkak (cerita pendek), geguritan (puisi), mendongeng, pidato (sesorah), nembang macapat, komedi tunggal, hingga menulis&membaca aksara Jawa.

“Persiapan kami lakukan sangat matang. Untuk menjaga objektivitas dan transparansi, kami menghadirkan dua juri silang dari Kecamatan Banyumanik dan satu juri internal,” kata Fauzi yang juga sebagai Kepala SD Al Hikmah Tembalang, menjelaskan.
Para Juara dari setiap cabang lomba otomatis akan menjadi delegasi resmi untuk mewakili Kecamatan Tembalang di ajang FTBI tingkat Kota Semarang. (Pur)




