
SEMARANG, derapguru.com — Jamak terjadi, Mata Kuliah Umum (MKU) dianggap sebagai pelengkap bagi mata kuliah lain di perguruan tinggi. Karena hanya sebagai pelengkap, maka keberadaannya seringkali dianggap sebelah mata atau dijalani dengan asal-asalan.
Fakta tersebut disampaikan Koordinator Mata Kuliah Bahasa Indonesia Unnes, Dr Wagiran MPd, saat memberikan “Workshop Strategi Pembelajaran Mata Kuliah Umum yang Efektif dan Menyenangkan” yang digelar Pusat Pengembangan MKU LPP UPGRIS, di Menara Pascasarjana UPGRIS Kampus Cipto Semarang, Kamis 3 September 2026.
“Diakui atau tidak, mata kuliah umum jadi mata kuliah yang menyenangkan kalau mata kuliahnya sering kosong dan nilainya bagus. Ini kenyataan di lapangan. Lantas kenapa mata kuliah ini diambil? Ya hanya karena mata kuliah ini bersifat ‘wajib’, itu saja,” ungkap Wagiran.

Tapi, lanjut Wagiran menuturkan, apakah mata kuliah ini tidak bisa diubah menjadi mata kuliah yang menyenangkan? Tentu saja bisa. Apalagi dalam konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) mensyaratkan adanya proses pembelajaran yang menyenangkan.
“Persoalannya, apakah yang dimaksud ‘menyenangkan’ itu seperti apa yang dimaksud di atas? Senang karena kosong atau nilai bagus? Tentu saja tidak. Yang dimaksud menyenangkan di sini adalah proses pembelajarannya yang menyenangkan. Dan hasil akhir dari proses pembelajaran yang menyenangkan adalah tercapainya student well being,” ungkap Wagiran.
Wagiran menambahkan, salah satu cara untuk mengubah mata kuliah umum menjadi mata kuliah yang menyenangkan, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengubah mindset dosen-dosen pengampu dari fixed mindset menjadi growth mindset.

“Dengan growth mindset, dosen akan memiliki kemampuan berpikir kreatif untuk merancang pembelajaran yang menarik dan menyenangkan,” tutur Wagiran.
Salah satu tips yang bisa diberikan agar pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan adalah dengan mencari hal-hal penting dan berguna dari mata kuliah yang diajarkan. Semakin banyak hal-hal penting dan berguna bagi mahasiswa, maka mahasiswa akan semakin tertarik dalam mengikuti mata kuliah tersebut.
“Pembelajaran jadi menarik dan menyenangkan karena ada sesuatu yang dibutuhkan atau ada hal yang berguna bagi kehidupan mahasiswa. Ini yang harus dipahami dosen pengampu,” tandas Wagiran.

Transformasi MKU
Sementara itu, Kepala Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) UPGRIS, Dr Fenny Roshayanti MPd, menyampaikan bahwa mata kuliah umum harus bisa bertransformasi sesuai dengan tantangan-tantangan masa kini. Selain itu, paradigma-paradigma berpikir masa lalu harus disesuaikan dengan paradigma berpikir masa kini atau disesuaikan dengan sesuatu yang bersifat beyond.
“Misalnya saja, pada mata kuliah Pendidikan Agama. Bila dulu paradigma pembelajaran agama mengarah pada materi ‘perintah’ dan ‘larangan’, sekarang jangan hanya itu saja, dosen harus mulai mengarahkan pada isu-isu masa kini seperti moderasi beragama, wawasan multikultural, posisi agama terhadap HAM, atau etika teknologi,” tutur Feny.
Pun demikian dengan mata kuliah Bahasa Indonesia, mata kuliah ini harus bisa mengikuti isu-isu terkini, seperti peningkatan literasi, bahasa sebagai keterampilan berkomunikasi, atau mengaitkan keterampilan berbahasa dengan AI.
“Literasi bangsa kita masih sangat rendah. Misalnya kasus jembatan putus di Pangandaran saat Bupati dan pejabat lainnya melintas. Ternyata, di salah satu bagian jembatan itu sudah ada tulisan tentang berapa kapasitas maksimal jembatan. Dan semua itu diabaikan. Hal ini bisa menjadi jembatan untuk mengajarkan masalah literasi,” ungkap Feny.

Ditindaklanjuti
Kepala Pusat Mata Kuliah Umum (MKU), Sunan Baedowi SPdI MHI, menyampaikan bahwa mata kuliah umum di Kampus UPGRIS ada beberapa. Mata kuliah tersebut antara lain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Ke-PGRI-an.
“Melalui kegiatan workshop, para pengampu mata kuliah dapat memperoleh wawasan dan pengalaman praktis dalam pembelajaran mata kuliah umum,” ungkap Sunan Baedowi.
Lebih lanjut Sunan Baedowi berharap kegiatan workshop tidak hanya berhenti pada sekadar pengetahuan saja. Tapi bisa ditindaklanjuti dengan menerapkannya pada proses pembelajaran di kelas.
“Kami berharap workshop ini tidak berhenti pada sekadar pengetahuan saja, tapi juga dapat ditindaklanjuti pada praktik pembelajaran,” tandasnya. (za)




