
Banjarnegara, derapguru.com-“Menulis, merupakan aktivitas strategis sebagai sarana dalam rangka mengembangkan diri yang utama. Orang yang menulis, biasanya kepandaiannya di atas rata-rata. Karenanya, maju tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh literasi masyarakatnya”.
Hal itu diungkapkan budayawan dan penulis nasional Ahmad Tohari di hadapan ratusan murid SMAN 1 Sigaluh, Kamis 16 Juli 2026. Tohari hadir dalam acara “Meet and Greet Budayawan Nasional Ahmad Tohari, Ngobrol Santai Menumbuhkan Minat Literasi Generasi Muda” dalam rangka HUT ke 29 SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara.

“Kalau saya, menulis saya anggap cara berdzikir saya. Maka saya khusyu setiap kali menulis. Awal menulis, mencontek dahulu tidak apa-apa, karena pasti kita butuh inspirasi dari bahan bacaan penulis-penulis terdahulu. Teruslah kembangkan literasi dengan membaca dan menulis. Baca sebanyak-banyaknya karya orang lain terlebih dahulu. Saya juga begitu, termasuk membaca buku-buku terjemahan penulis asing. Baru pada tulisan kelima, tulisan saya dimuat Kompas,” kenang penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu.
Tohari bahkan menyitir ungkapan Latin yang menyatakan bahwa ketika kita menulis maka kita dianggap lahir atau ada. Ia juga menandaskan bahwa dengan tulisan, kita juga bisa menjadi duta bangsa yang mengenalkan bangsa kita ketika tulisan kita diminati di luar negeri.
“Kalian lebih hebat dari saya karena sudah berkarya di usia semuda ini. Tapi jangan lupa teruslah untuk membaca tulisan penulis besar. Tri gatra bahasa harus dikuasiai. Wajib kuasai bahasa Indonesia, bahasa ibu dan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional baik dalam lisan maupun tulisan,” pesan pria asal Desa Tinggar Jaya Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas ini di hadapan murid SMAN 1 Sigaluh.
Kehadiran Tohari menjadi istimewa bagi para murid, pasalnya mereka baru saja menerbitkan karya buku dari program Satu Kelas Satu Buku (SKSB) sebagai program unggulan literasi sekolah.
Kepala SMAN 1 Sigaluh mengungkapkan, tidak hanya siswa yang menulis karya buku bersama dalam kelas, para guru juga membuat karya bersama sehingga total ada 24 buku karya siswa sesuai jumlah kelas yang ada di sekolah itu, dan 1 buku karya guru dan karyawan.
“Semoga ini langkah awal yang baik untuk menumbuhkan semangat literasi di kalangan murid dan guru. Ke depan akan kami terus kembangkan kegiatan literasi seperti ini,” ujar Linovia. (Heni P)




