
Semarang, derapguru.com – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali mempertegas kiprahnya di tingkat internasional melalui penyelenggaraan The 2nd International Conference of Epidemiology and Public Health (ICoEPH) 2026. Konferensi yang digelar secara daring ini menjadi wadah bertemunya para akademisi, peneliti, praktisi kesehatan, pembuat kebijakan, dan organisasi internasional untuk merumuskan solusi menghadapi berbagai tantangan kesehatan global.
Mengusung tema “Resilient Health Systems in a Turbulent World: Public Health for Equity, Preparedness, and Sustainable Development”, konferensi menekankan pentingnya membangun sistem kesehatan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di tengah meningkatnya ancaman krisis kesehatan, perubahan iklim, hingga ketidakpastian global.
Ketua Panitia, Efa Nugroho, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 137 peserta dari berbagai latar belakang profesi dan negara. Sebanyak 87 karya ilmiah dipresentasikan dalam sesi paralel yang membahas isu epidemiologi, kebijakan kesehatan, kesehatan lingkungan, gizi, kesehatan ibu dan anak, serta berbagai inovasi di bidang kesehatan masyarakat. Karya-karya terbaik selanjutnya akan dipublikasikan pada prosiding internasional ber-ISBN, jurnal bereputasi terindeks Scopus, dan jurnal nasional terakreditasi SINTA.
Wakil Rektor IV UNDIP, Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara untuk memperkuat ketahanan sistem kesehatan. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menghadirkan riset yang mampu menjadi dasar penyusunan kebijakan publik serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Konferensi menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai institusi terkemuka, di antaranya Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, UNFPA, IPPF, Queensland University of Technology Australia, Rajamangala University of Technology Thanyaburi Thailand, dan Universitas Diponegoro. Para narasumber membahas berbagai strategi penguatan sistem kesehatan, komunikasi risiko, kesiapsiagaan menghadapi bencana dan pandemi, pemanfaatan bukti ilmiah dalam pengambilan keputusan, hingga perlindungan terhadap kelompok rentan.
Selain menjadi ajang diseminasi hasil penelitian, ICoEPH 2026 juga memperkuat jejaring kerja sama internasional dalam pengembangan ilmu kesehatan masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan secara daring sebagai bentuk komitmen terhadap akses yang lebih luas sekaligus mendukung upaya pengurangan jejak karbon.
Di penghujung acara, panitia mengumumkan penghargaan Best Paper dan Best Presenter sebagai bentuk apresiasi terhadap karya ilmiah terbaik. Rekomendasi yang dihasilkan dari konferensi ini diharapkan mampu menjadi referensi bagi pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh, adil, dan berkelanjutan di masa mendatang. (Arif Suyono Al Banjari)




